Jelaga Malam

Terpurukku di kota karma
Kota yang malamnya membuatku gerah
Di mana ikhlas terkontaminasi lelah
Asa tersublim menjadi serapah

Kota bercawan dahaga
Kota yang sudutnya berkerudung jelaga
Kureguk air putih bercampur keringat
Energiku redam dalam napas hangat
Sekelebat diam menyusup jiwa
Diam yang menyesakkan dada

Read More......

Salahkah Saya Kali Ini?

Menjadi guru itu indah, banyak ritmis yang di temui. Murid-murid dengan latar pendidikan dan kultur yang heterogen. Para rekan seprofesi dengan kepentingan yang berbeda. Jadi guru adalah pekerjaan yang hidup, karena kita menghadapi materi bernyawa yang bisa membuat marah, ketawa, sedih, kecewa, atau bangga.

Sebagai seorang anak manusia, saya juga pernah melewati masa-masa perkembangan mulai dari anak-anak, remaja sampai proses menuju kedewasaan. Jujur saya akui saya tidaklah lebih baik dari murid-murid saya sekarang. Nakal, jahil, dekil, kucel juga pernah saya lakukan.

Namun senakal-nakalnya kami jaman dulu, tidak pernah melakukan hal-hal di luar batas kewajaran. Mungkin teman-teman tidak pernah menemukan proses pembelajaran dimana para murid merokok, dalam kelas, meletakkan kaki di atas meja padahal guru ada di depan kelas menerangkan pelajaran. Syahdan, hal ini pernah saya alami ketika melakukan pembelajaran di kelas Paket.

Okelah, memang saya tidak bisa memarahi murid-murid saya, apalagi sampai menunjukkan kemarahan yang meledak-ledak, dan mungkin ini adalah sebuah kelemahan saya sebagai seorang guru, namun bukan berarti saya tidak menegur mereka.

Terkadang saya berpikir kenapa pelajaran agama, etika dan akhlak mendapat posisi dan jatah pembelajaran lebih sedikit dibandingkan pelajaran eksak, bahasa dan sosial. Padahal tiga hal itu menjadi substansi dasar dan penting untuk membentuk anak bangsa yang berkepribadian mulia.

Hal yang membuat saya miris sebagai pendidik adalah etika berbicara murid-murid saya yang masih jauh dari norma kesopanan. Mungkin karena latar keluarga dan lingkungan, serta pengaruh televisi, sehingga merekapun sering melontarkan ucapan-ucapan yang tidak pantas diucapkan seorang pelajar. Kata-kata kotor, kasar, umpatan, ejekan –gila, bungul, tambuk, anjing, satua, jablay, dkk- yang harusnya tidak diucapkan seringkali menjadi bagian dari kosakata mereka, bahkan saat berada dalam ruang kelas.

Saya merasakan jadi guru bukanlah pekerjaan yang mudah. Betapa jadi guru bukan hanya sekedar mengajar saja, tapi juga mendidik dan mengabdi. Untuk memperbaiki etika berbicara murid-murid saya, saya pun membuat kesepakatan dengan mereka.

”siapa yang mengatakan kata-kata kotor, tidak sopan, ejekan, umpatan saat jam mengajar saya di kelas, maka mereka akan mendapat sanksi langsung berupa push up 10 x untuk siswa, dan 5 x untuk siswi” Kami pun membuat perjanjian bersama. ”Karena sungguh sebagai seorang terdidik ucapan kotor tidak pantas dilontarkan oleh kita”, kata saya lagi.

Punishment ini ternyata efektif mengerem ucapan-ucapan murid saya. Sudah hampir berjalan 1 bulan sanksi ini berlaku, dan diawal yang paling banyak kena sanksi adalah murid laki-laki.

Dan siang itu terjadi insiden yang tidak pernah saya harapkan dari kesepakatan yang telah kami buat.

Kamis siang, jam pelajaran terakhir. Waktu itu saya mengajak murid belajar di luar kelas, di area perkebunan karet di samping sekolah kami. Metode pelajaran dengan diskusi santai membahas latihan yang mereka kerjakan, karena materi pelajaran saya sudah hampir habis menjelang ujian semester, jadi banyak diskusi dan pengayaan yang saya terapkan.

Di bawah belaian angin di sela pepohonan Karet, saya biarkan murid bebas berekspresi, belajar sambil berdendang, lesehan di atas tanah, namun semua dalam batas kewajaran. Santai tapi serius.

Saat diskusi berlangsung, ternyata ada siswi saya yang melontarkan ejekan pada temannya yang lain, sontak saya pun memandang ke arah dia, dia yang biasanya paling getol menunjuk teman-temannya yang salah, dia yang memang sering menyeletuk ketika saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Sebuah kebiasaan sebelum menjatuhkan sanksi saya pun akan bertanya pada murid yang lain ”anak-anak, apakah kalian mendengar juga ucapan dia yang tidak pantas” ketika mereka berkata ”iya, mendengar” maka jatuhlah sanksi itu.

”Sesuai kesepakatan kita” kata saya, maka kamu harus push up 5x, konsekuensi dari ucapan yang dilontarkan. Siswi itu menepi, dan Astaghfirullah dia menangis. Suasana yang tidak saya inginkan terjadi. Sayapun berkata ”ya sudah kalo tidak mau push up, kembali saja ke tempatmu”. Dan kami pun kembali melanjutkan diskusi. (satu kelemahan saya lagi, terkadang saya sangat sulit untuk bertindak tegas)

Sebuah penyesalan, pembiaran, marah atau apalah namanya, namun yang jelas saya mendiamkan dia.

Dalam proses pembelajaran Punishment maupun award adalah dua hal yang penting menurut saya.

Lalu sebagai seorang guru, salahkah saya melakukan punishment itu?

Read More......

Kidung Rembulan

Ada persuaan dengan masa lalu
Ada bibir kelu dengan bahasa yang tak terucap
Ada yang tak terungkap dengan raga dan tatapan
Membuat hatiku retak kembali
Setelah susah payah aku membenahinya

Ketika rembulan masih setengah tiang
Akupun berharap kau akan datang
Menyelesaikan cerita tentang purnama
Tapi itu dulu,
Sebelum rinai hujan menghapus jejakmu
Meninggalkan punggung tegak berbekas rindu


Aku tak tau kereta mana yang membawamu kembali ke kotaku
Mengajakku berdiri pada persimpangan kebimbangan
Menguraikan simpul hatiku yang rapuh
Tanpa permisi sekelebat senyummu tersangkut di pintu qalbu
Di hati, entah kapan?
Kemudian begitu saja tidur di jantungku yang rawan

Mengapa kau baru datang?
Disaat ada rembulan lain yang meminta ku untuk merindunya



28 April '10
saat rembulan meraih purnama

Read More......

Untuk Mereka yang Masih Saling Menyapa

Orang yang tak dikenal. Cuma orang luar. Cuma pernah bertemu di jalan. Barangkali itulah ungkapan yang kita pakaikan untuk berbagai orang yang pernah kita jumpai sejenak dalam perjalanan. Namun boleh jadi orang yang tak dikenal, bertemu cuma sebentar, mereka yang kemudian menyisakan kesan “aneh”, karena ternyata mau peduli, mau berbagi cerita. Meski setelah itu kita kembali terputus dengan meraka.

Teringat kata A’a Gym, “mustahil seseorang dipertemukan dengan orang lain tanpa menjadikannya sebagai ilmu”.

Pengalaman itupun ku alami sendiri ketika meneruskan perjalanan dari Martapura menuju Banjarmasin (lanjutan cerita antara Martapura, Sungai Tabuk dan Banjarmasin).

###

Ada apa dengan Sungai Tabuk??
Mungkin bagi kebanyakan orang, sungai Tabuk tidak terlalu berkesan. Tapi tidak bagi jiwa petualangku. Sore itu setelah dari Martapura, aku memilih ke Banjarmasin lewat Sungai Tabuk. Ada beberapa alasan kenapa kupilih jalan pintas itu.

Pertama, ingin cepat sampai ke Kayutangi, karena konon katanya lewat sana lebih cepat. Kedua, lewat sungai Tabuk merupakan pengalaman pertamaku,, jujur walau pernah tinggal 7 tahun di Banjarmasin, dan sering bolak-balik Banjarmasin – Martapura. Namun sekali-kali tidak pernah lewat jalan itu.

Akhirnya dengan berbekal keberanian dan sedikit petunjuk jalan dari si Mbak “ikuti jalan aspal ganal ja, sampai aja tu kena ke banjar”. Aku meneruskan perjalanan, menikmati suguhan alami panoramanya. Dan walhasil pada simpang tiga jalan yang sama luasnya aku terhenti.

Bingung jalan mana yang harus kuambil, dengan berbekal rumus ngawur mengenai konsep tersesat “pilih terus arah kanan, kalau tersesat di jalan, nanti bakal ketemu sama jalan yang benar”. Dan akhirnya ilmu sok tau aku benar-benar gagal,, aku tersesat pada jalan yang rusak T_T.

Dan kali ini pepatah “malu bertanya sesat di jalan” emang jadi pelajaran berharga.
Setelah yakin berada pada jalan yang benar, kulanjutkan perjalanan.

Sore semakin beranjak petang, gumpalan awan semakin menghitam di ufuk sana. Tirai kabut air terlihat jelas di ujung jalan. Tes, tetesan air hujan mengenai telapak tanganku, perlahan namun semakin deras curahan airnya tumpah. Kuputar balik motorku untuk berteduh di semua warung di pinggir jalan. Ternyata ada bapak-bapak juga yang ikut berteduh di warung.

Ketika itu sempat terjadi percakapan antara aku dan si bapak-bapak (selanjutnya ditulis Bapak 1 dan Bapak 2).

Sambil asyik minum teh hangat,, obrolan kecil mulai terjadi:

Bapak 1: Dari mana pak?
(matanya menatap ke arah bapak 2,, hohoho nggak mungkin menatap aku kan :)

Bapak 2: dari Negara, eh tepatnya Babirik (sepertinya si bapak 1 takut orang itu tidak familiar dengan nama Babirik)

Bapak 1: o ya, musim apa sekarang di sana?

Bapak 2: Tidak musim apa-apa, sampean mau kemana juga?
(cerita mengalir dari percapakan mereka,, dan aku waktu itu cuma nguping pembicaraan, sambil memperhatikan anak-anak yang main sepakbola. Tak sadar hati ini merutuk. “MasyaAllah, anak-anak. Tidak tau apa kalau main bola di tengah lapang, sangat berbahaya, bisa-bisa di sambar petir, belum lagi beceknya yang minta ampun”.)
Bapak 2: Ke Marabahan, istri saya orang sana (kupingku berdiri mendengar kata Marabahan, sepertinya ada peluang buat nimbrung)

Saya: ke Marabahan ya Pak? Tanyaku. Gimana jembatan Ulin dekat tikungan itu, masih rusak yah?? (sok tau ku keluar :)

Bapak 2: oh jembatan itu,, sekarang sudah diperbaiki. Dulu saya pernah kecelakaan di sana, menabrak pagar jembatan dan motor saya jatuh ke sungai. waktu itu malam-malam istri saya mau melahirkan, saya panik dan lupa sama jembatan itu.

Saya: wahh,, tertanya kita sama pak, saya juga pernah menabrak pagar jembatan itu. Muka motor saya rusak berat, setangnya bengkok, dan tebengnya patah. Untungnya motor saya tidak ikut nyungsep ke sungai, dan saya Alhamdulillah baik-baik aja. Cuma lutut aja kebiruan dan sempat tidak bisa jalan sebentar, karena terhantam pagar jembatan juga. (huaa,, kami sama-sama punya pengalaman buruk di jembatan itu).

Bapak 1: “Mau kemana dek?” Bapak 1 ikut ngobrol jua.

Saya : mau ke Kayutangi, katanya lewat sini lebih dekat. Dan ini adalah pertama kalinya saya lewat jalan ini.

Bapak 1: kalau siang lewat sini aman-aman saja, tapi kalau malam sebaiknya jangan lewat sini, apalagi sendirian. Karena banyak jalan-jalan yang masih sepi dari rumah penduduk, rawan kejahatan. Dan berpesan singkat “hati-hati”

Saya : oh gitu yah pak, terimakasih pesannya.

Setengah jam berlalu, hujan mulai reda. Cuma gerimis-gerimis kecil tersisa. Saatnya untuk melanjutkan perjalanan. Setelah membayar teh hangat kami pun beranjak meninggalkan warung itu.

###

Ada percakapan kecil antara bapak-bapak itu yang berkesan, tentang basa-basi perkenalan “musim apa di sana sekarang”. Sebuah basa-basi biasa namun bisa mengakrabkan suasana. Basa-basi terkadang diperlukan dalam kehidupan. Namun, jujur walau terkadang aku muak dengan basa-basi yang tidak mengandung empati, basa-basi yang penuh embel-embel.

Akhirul kalam...
Setiap perjalanan yang kulalui sehari-hari, memberikanku begitu banyak keindahan. Memberikanku pemahaman. Alam ini diciptakan bukan sekedar pelengkap kenikmatan hidup. Namun ia hadir dengan berjuta pelajaran yang harus kita rengkuh untuk memberi arti dan makna bagi kehidupan kita.


Read More......

Antara Martapura, Sungai Tabuk, dan Banjarmasin


Siang itu. Matahari terus beranjak naik, meninggalkan panas di ubun-ubun. Terlihat para peserta pelatihan keluar ruangan sambil menenteng sebuah amplop dan sertifikat. Pelatihan selama 5 hari di Martapura telah usai. Perlahan tapi pasti para peserta mulai meninggalkan lokasi, pulang ke daerah masing-masing.

Ketika itu hari Sabtu pukul 14.00 wita. Aku masih terpaku, bingung antara mau pulang atau tidak, suara hati dan logika mulai berkelahi. Yah,, akhirnya logika yang menang, ga mungkin aku berani mengambil resiko naik motor sendirian, melintasi perjalanan 170 km kurang lebih, dan kemalaman di jalan. Akhirnya kuputuskan untuk pulang besok pagi minggu.

Ho ho ho,, kali ini bukan cerita tentang pelatihan tutor paket C yang baru saja aku ikuti, tapi ceritaku belajar dari perjalanan...


Mumpung masih hari Sabtu dan besoknya masih hari libur, kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Banjarmasin. Namun sebelum itu mampir dulu di rumah kerabat di Martapura.

Siang terus beranjak, cahaya putih membara belum meredup, namun sesekali awan hitam menutupi teriknya sang mentari. Meninggalkan sedikit hawa dingin pada bumi. Episode pembelajaran di mulai dari sini. Pertama yang kulakukan adalah mampir di toko buah, membeli sedikit buah untuk kerabat yang akan kukunjungi.

Bab I pembelajaran

Mampir di rumah kerabat, sebut saja beliau dengan Mbak, rumahnya berada di Tanjung Rema, Martapura. Mbak yang perjuangan hidupnya sangat keras, mbak yang punya 3 orang anak, dengan anak terakhir yang masih balita mengalami cacat fisik. Hidup terpisah dengan suaminya yang tinggal di Handil Bakti Banjarmasin, semua ini di lakukan untuk mencari nafkah keluarga. Si Mbak pun ternyata tidak mau berpangku tangan menunggu pemberian sang suami saja. Dengan sepeda butut dia bersama anak balitanya tiap hari mendatangi salah satu rumah di komplek perumahan, menjadi buruh cuci bulanan, dengan gaji 150 ribu perbulan. Gaji yang sangat rendah, jauh di bawah UMR. Aku sempat protes dan berkata “Kok, bisa serendah itu gajinya. Namun raut keikhlasan terpancar di wajahnya, dan dengan santai beliau berkata “yah, daripada tidak ada pekerjaan buat nambahin biaya hidup yang semakin tinggi”. Pembelajaran pertama sudah selesai, dan sebelum meninggal tempat Mbak, aku memberikan sekantong buah dan sedikit uang untuk belanja si kecil, hitung-hitung berbagi rejeki honor pelatihan .

Bab II pembelajaran

Setelah dari rumah si Mbak, ku lanjutkan perjalanan ke rumah kerabat yang satu lagi di Jalan Pendidikan. Masih sama di Martapura juga. Supaya mudah ku sebut saja beliau dengan bude. Bude yang satu ini hidupnya sangat bersahaja, separuh dari rumahnya masih berlantaikan tanah. Punya anak 8 orang, ah sampai nama-nama anak beliaupun aku sering lupa. Anak yang banyak ternyata tidak membuat rejeki beliau ikut banyak. Malah anak beliau yang sudah menikah sering ikut numpang makan di rumahnya, hingga pembagian jatah piring ikut bertambah. Setiba di rumah beliau, sontak sambutan hangat mengalir dari bibir beliau. Kedekatanku dengan beliau membuat ragam cerita tumpah ruah begitu saja. Mulai dari cerita anak lelaki beliau yang berinjak remaja terlibat pergaulan bebas, hingga sering mabuk-mabukan sama gengnya. Duh,, miris hati ini mendengarnya.

Hening sejenak,,
Beliau kembali bicara, namun kali diiringi tawa-tawa kecil, beliau berkata “San, tuh coba lihat meja makan Bude”,, sambil senyum ku bilang “ah,, ngapain bude, orang sudah makan juga waktu sebelum penutupan pelatihan tadi, masih kenyang kok”.

Hening kembali menyeruak,,

Kemudian lirih beliau berkata “tidak ada makanan apa-apa di meja, tidak ada beras yang bisa di masak, dan tidak ada uang untuk membeli beras. Pakde kamu masih belum pulang dari bekerja, mudahan sore nanti pakde bawa uang. Untungnya adik-adikmu yang kecil tidak rewel minta makan. Yah, kalau ada nasi mereka makan, kalau tidak mereka diam aja”.

Tes,, airmata menetes di hatiku. Yah, Cuma di hati, sekuat tenaga ku tahan agar buliran-buliran halus tidak menetes dari mata ini. Tak tau dan tak mengerti harus berkata apa. Apakah ini sebuah kepasrahan, ketidakberdayaan, atau malah sebuah kemalasan ketika hanya mengharap pemberian dari pakde. Berbeda sekali dengan mbak yang tak kenal lelah menjadi buruh cuci untuk membantu suami mencari nafkah.
Seperti sebelumnya, ketika ingin pulang kuberikan kantong buah yang satunya lagi dan kembali berbagi rejeki uang honor pelatihan. Masyaallah beliau menangis menerima sedikit uang yang kuberikan. Dan spontan beliau memanggil anak lelakinya, beliau berkata ”Nduk, ini kakakmu ada kasih sedikit uang, kamu ke toko wan haji yah, beli beras sama minyak tanah”.

Tak mau berlama-lama di sana, aku langsung pamit pulang untuk meneruskan perjalanaan ke Banjarmasin.

Sebuah pelajaran penting dalam hidupku dari dua fragmen yang berbeda. Antara kegigihan dan kepasrahan…

Situasi hidup yang diberikan Allah kepada memang berbeda-beda. Tingkat kesulitannya pun beragam. Di antara kita, ada banyak orang yang sangat jauh dari kemudahan-kemudahan. Mereka bercengkerama dengan situasi yang seolah memaksanya untuk pasrah. Namun di sisi lain, ada pula di antara yang melimpah dengan kemudahan.

Kesulitan dan kemudahan, sebenarnya adalah dua situasi yang selalu akan kita temui. Ia bisa menjadi pilihan, tetapi terkadang lahir dari sebuah tekanan, paksaan atau faktor yang lain.

Hahayy,, melankolis cerita kali ini. Eiitt,, tunggu dulu cerita masih bersambung, karena ini baru secuil cerita di Martapura, belum sampai ke Banjarmasin.

Read More......

Futur Menulis


Tiada kata dan bahasa yang patut diucap kecuali kata malu. Malu menyebut diri sebagai blogger. Terlalu lama jemari ini tidak menari lincah, merangkai hentakan-hentakan ritmis. Terakhir aku menulis saat bulan kemerdekaan, di mana jemari inipun merasa bebas bersalsa. Namun setelah bulan kemerdekaan lewat, kembali jemari ini terkungkung. Terkungkung oleh rutinitas dan rasa malas. Tidak ada alasan dan alibi memang, kecuali rasa malas. Malas untuk memulai menulis, aku terlena dengan kesibukan dan rutinitas. Kalau dalam istilah Tarbiyah, saat ini aku sedang Futur. Futur menulis. Disebut sedang hibernasi ataupun hiatus juga tidak pantas, karena aku sering berkomentar dan menulis status di facebook.

Jiaahh,,

Mungkin agak lucu kalo aku menjadikan amanah tambahan di luar ngajar sebagai alasan futur menulis, namun memang begitulah adanya. Entah kenapa amanah yang berhubungan dengan uang selalu jadi jatahku. Dulu waktu masih kuliah, 2 periode kepengurusan organisasi aku bercokol di departemen dana dan usaha. Waktu kerja di RS juga ngurusin klaim alat operasi. Dan ketika pindah haluan, pulang kampung, mengajar, dan akhirnya mendirikan Iqro Club Balangan bersama teman-teman, lagi-lagi aku di minta jadi bendahara umum. Mencoba meraba-raba alasannya, apa mungkin ini karena aku seorang pedagang??? *weleh-weleh*. Dan, semua itu Alhamdulillah masih bisa kulaksanakan.

Namun sekarang yang benar-benar bikin kalang kabut ketika aku menjadi bendahara di sekolah baru. Penunjukan sepihak oleh kepsek tanpa bisa kutolak. Bayangkan aku yang berlatar ilmu eksak dari SMA sampai kuliah harus berhadapan dengan rencana anggaran, LPJ dan pajak. Belajar dan belajar, nanya kesana-kemari tentang segala tetek bengek dana BOS, sudah kulakukan. Tapi tetap saja lelet, faktor usia juga kali yah, sekarang tambah susah aja tuk menangkap ilmu (ngawur.com hehehe,,).
Ada yang bertanya” loh, bendahara lamanya mana??” hmm… jangan tanyakan itu, karena bendahara lama seolah-olah lepas tangan.

Begadang tiap malam sudah jadi rutinitasku sekarang.
Dan, apabila suatu hari teman-teman berpapasan dengan perempuan yang agak sedikit gendut (karena kebanyakan ngemil tengah malam kali ye, hehehe) lemas, pucat, tak terawat, gurat letih yang nampak jelas di wajah, mata yang lelah karena kurang tidur, mungkin itulah aku. Yah, aku hanya sedikit lelah. itu saja. Tapi aku akan berusaha memberikan senyum terindah untuk kalian saat berjumpa (Oops,, lebayy)

Bagaimana aku harus menjelaskan? Teman...aku hanya manusia lemah yang jauh dari kesempurnaan. Aku tak berani berjanji tuk sering menulis,, namun aku akan berusaha mengikat imaji-imaji agar tidak terbang bebas, hingga di saat aku ingin bercerita, ku bisa menariknya kembali.



Read More......

JANGAN MAU DIJAJAH..!!!

“Sekali MERDEKA TETAP MERDEKA, selama semangat itu masih DI JIWA SEORANG SANG MERDEKA”

Kata-kata di atas merupakan forward sms dari seorang teman nun jauh di sana, persis pada tanggal 17 Agustus tadi. Tergelitik hati untuk menulis tentang kemerdekaan juga saat masih hangat-hangatnya momentum 17an, namun apa daya aktivitas dan rutinitas tak mengijinkannya. Alhamdulillah baru bisa sekarang nulisnya.

Kalau melihat kata MERDEKA maka tak luput hati ini juga akan teringat dengan kata JAJAHAN.

Menilik kembali sms teman di atas, “JIWA SEORANG SANG MERDEKA”.
Timbul pertanyaan benarkah diri kita sudah merdeka?
Atau malah saat ini diri kita sedang terjajah?
Terjajah oleh kelakuan kita sendiri?Wallahu’alam

Tengoklah hari-hari yang sudah berlalu dan boleh jadi kita terkesima. Karena, ternyata selama ini diri kita sendiri yang menjajah hidup kita lewat berbagai cara. Padahal sebenarnya kita bisa menjadi manusia yang merdeka. Manusia yang mengetahui apa yang ingin kita tuju, yang mampu merancang langkah-langkah untuk mencapainya, dan tahan dalam proses merancang dan meraihnya.

Pemisah antara merdeka dan terjajah sangatlah tipis. Pemisahnya ada pada hati kita sendiri. Saat kita memutuskan memilih antara berdosa atau beramal shalih, antara meniti jalan kebaikan atau tenggelam dalam kemungkaran. Antara menyerahkan penghambaan kepada Allah atau kepada hawa nafsu sendiri.

KEMERDEKAAN SEJATI adalah KEMERDEKAAN IMAN. Tak ada yang lebih merdeka dari orang beriman. Sebab ia tidak merasa memiliki penjajah. Tidak juga orang lain. Kemerdekaan memberi arti pada banyak fungsi kehidupan. Secara social, hanya orang-orang merdeka, yang bisa meniti jalan kedermawanan. Mereka 0rang-orang yang tidak harus merasa dijajah oleh duniawinya, oleh kekayaannya. Mereka meletakkan uang di atas tangannya. Bukan memenuhi isi otaknya. Maka ia bisa berbagi, memberi, tetapi ia juga merasa sah untuk menikmati apa yang halal dari karunia Allah. Ia mengerti kapan harus tampil dengan pantas, makan dengan pantas, sebagai penjabaran dari menunjukkan ‘bekas-bekas’ nikmat Allah.

Tidak ada penderitaan melebihi pahitnya dijajah diri sendiri. Terlebih bagi orang-orang yang tidak menyadari. orang yang tidak menyadari kenyataan bahwa DOSA, KESALAHAN, JALAN HIDUP KOTOR, KEMALASAN, adalah PENJAJAHAN ATAS DIRI SENDIRI, yang akan mengalami situasi dimana jiwanya terasa kering dan gersang. Mungkin ia bisa menghibur diri dengan nyanyian bahagia, atau mimpi-mimpi duniawi yang megah. Tetapi sebenarnya hal itu tidak menghapus kegalauan.
Di batas ini kesadaran punya peran besar dalam mengantarkan kita menjadi manusia merdeka. Ya, kesadaran. Pengakuan paling mendasar dari hati nurani dan suara hati. Orang-orang yang beriman bukan berarti tak pernah salah, atau tak pernah dosa. Mereka pernah salah, pernah berdosa, tapi kesadaran yang selalu dijaga nyawa dan nyalanya, telah membuat orang mukmin punya system recovery yang handal. Allah swt mengabarkan, “sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS, Al-A’raf:201)

MENJADI MANUSIA YANG MELEPASKAN PENJAJAHAN PADA DIRI SENDIRI, INILAH PUNCAK KESADARAN YANG MELAHIRKAN KEMERDEKAAN, SEKALIGUS MELAHIRKAN KEBAHAGIAAN.





Read More......

Geng Hantu vs RT Sembilan


Tak ingin larut terlalu lama dalam kesedihan atas meninggalnya 2 seniman Indonesia. Akupun mulai mencoba mengais-ngais memori yang terpendam di otak. Sebuah momentum, cerita indah saat liburan sekolah bulan Juli tadi.

Momentum yang terekam indah adalah reunian dan syukuran alumni Bio 01 di Banjarmasin. Outbond Iqro club dan sekolah nanti aja insyaallah diceritain.

Sekian lama tak bertemu teman2 kuliah dulu, kurang lebih 3,5 tahun setelah kelulusan. Alhamdulillah bisa kembali ngumpul ma teman2 satu perjuangan di kampus. Acara reunian ini tercetus saat angkatan kami banyak yang lulus tes CPNS tahun 2009, rekor lulus cpns terbanyak dibanding tahun2 sebelumnya. Sok, sebagai luapan kegembiraan kita-kita (hmm,,, kita!! Mereka aja kale, aku juga hehe) diadainlah acara reunian dan syukuran di kampus. Dengan sponsor utama yang udah dapat gaji ke13 (waduuuh ada yang merasa kerampokan tuh gajinya).


By the way,, dengan perjuangan keras penuh titik peluh dan pulsa tuk ngabarin dan ngumpulin teman2 dari bulan Februari, alhamdulillah akhirnya kamis 9 Juli kemarin baru bisa dilaksanain. Sempat berkhayal andai bisa konferens dengan teman-teman, tentu tidak akan sesulit itu komunikasi antara kami. Tidak bolak-balik sms ke sana dan konfirmasi ke sini.

Tiga tahun tak berjumpa, ternyata sifat teman2 ga berubah banyak. Masih pada suka cekakak-cekikik, ada yang tetap bore (bore apa yah??1), ada yang masih setia dengan plin-plannya,, pokoke masih berjuta rasanya...

Acara syukurannya di adain di dua tempat, di kampus dan rumah Nini Ayya (Sorayya Efyunie, ssttt... jangan bilang2 yah, Ayya adalah putri SEKDAKOT Banjarmasin!!!). Sempat sedih juga sih waktu di kampus tidak bisa ketemu sama semua dosen. Terutama Pak Zai, saat dikonfirm beliau masih dalam perjalanan menuju kampus, dan saat itu kami tidak bisa menunggu beliau lagi, kami harus segera meluncur ke rumah Nini Ayya karena sebagian teman2 udah pada kumpul di sana. Padahal neh aku pengen banget ketemu sama Pak Zai, secara beliau adalah dosen pembimbing skripsiku yang baik banget.

Sesampai di rumah Nini Ayya, ternyata di sana sudah ada Datu Diah bersama suami en anak laki2nya, ada Kai Aji sama Istri mudanya –Acil Ana- yang ternyata udah punya momongan (istri pertama Kai aji adalah Nini Ayya), ada Abang Sani (masih jomblo euy), Cimay, Acil Rahmi sama si kecil juga. Mawar (putri dari Paminggir :)), Nana-Owen, Erma, Eka, Tilah, Ifit, Memes yang sudah tampak kelelahan mengarak perutnya (maklum hamil tua) dan tak ketinggalan Mba Muly yang kemayu xi...xi...xi. Serta masih banyak teman-teman yang ga disebutin namanya (karena sebagian emang ga datang,, hiks hiks)

Cerita seru, sedih, dan lucu mengalir begitu saja dari mulut kami, seputar berita teman- teman selama terpisah. Cerita di mulai dari teman yang di tembak sama kakak tingkat, tapi cuma sempat ngedate 1 minggu habis tuh putus. eee,,saat reunian sudah menggandeng pendamping baru. *geleng-geleng*.
Belum lagi kasusnya si Wiwid yang dapat finalty katanya dari Ortu hingga ga bisa datang ke reunian.

Reuni berakhir dengan acara makan-makan, jam 3 sudah pada bubar. Selain itu juga empunya rumah-Nini Ayya-harus segera ke bandara karena ingin pergi ke Jakarta, penerbangan jam 4 sorenya.

setelah selesai reuniannya, kami lanjut dengan roadshow ke rumah Nyonya Sugi, teman yang satu ini ga bisa datang karena baru habis melahirkan, dengan bayi kembar pengantin xi,, xi,, xi,, lucu sekali bayinya. Tak lupa nyamperin si biang kerok Nisa,, ini dia neh satu-satunya teman kami yang udah bergelar Master, bulan Maret tadi dia nyelesaiin S2nya di Malang. Dia adalah sie panitia di Banjarmasin yang menjembatani komunikasi dengan dosen di kampus. Tapi malangnya saat hari H, Nisa ga datang, Hp dia dihubungi ga diangkat. Waktu di tanyain kenapa ga datang, dia jawab ”lupa”, trus kenapa Hp ga di angkat waktu kami hubungi, dia bilang 'Hp ketinggalan di rumah” (GUBRAKKK deh teman yang satu ini, kuliah S2 bikin otaknya penuh kali ye,, he he he)

Ok,,, lalu apa hubungannya dengan Geng Hantu ma Rt Sembilan???
Ho Ho Ho,,, itu adalah nama populasi di komunitas angkatan Bio 01.



Read More......

Si Burung Merak terbang bersama I Love You Full



INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN,,,,

“Setiap Yang Bernyawa Pasti Mati,,,”


Tanah merah di pusara Mbah “I Love You Full” Surip belum kering. Sebelumnya sempat tidak percaya ketika chating ada teman yang memberi tahu kepergian beliau. Karena merasa Mbah Surip baru beberapa bulan ini saja terkenal lewat lagunya ‘’Tak gendong kemana-mana”. Memang usia, jodoh dan rejeki hanya Allah yang Maha Mengetahuinya. Mbah Surip pun menutup usia pada tanggal 4 Agustus 2009.

Dunia Seni Indonesia kembali berduka. Tokoh teater modern Indonesia, WS Rendra, yang dikenal dengan julukan Si Burung Merak, meninggal dunia pada usia 74 tahun. Sejak beberapa waktu lalu lewat berbagai media memang sempat dikabarkan beliau mengalami berbagai gangguan kesehatan.

WS Rendra sang Maestro Sastra, ahli dalam mengupas tentang lunturnya etika dan budaya lokal yang memunculkan banyak persoalan di masa sekarang ini. Begitulah Rendra, sampai di usia senjanya ia masih kritis kepada penguasa. Karya-karya beliau takkan lekang di makan zaman. Seniman senior WS Rendra menutup usia pada tanggal 6 Agustus 2009.

Bukan latah ikut-ikutan nulis tentang kepergian 2 Seniman Indonesia, namun saya ikut merasa kehilangan 2 Seniman besar negeri ini. Ada rasa sedih menyeruak dari dalam hati, terlepas dari kontraversi yang melanda Mbah Surip akhir-akhir ini.

SELAMAT JALAN SI BURUNG MERAK,,
TERBANGLAH DENGAN DAMAI MENUJU TEMPAT-NYA
DAN
MBAH SURIP,,
SEMOGA MENDAPAT “I LOVE YOU FULL” DARI YANG MAHA KUASA



Read More......

Seruni di hati Coey_paringin

Alhamdulillah,,,

Senang banget bisa nulis lagi, setelah sekian lama vacuum.

Satu bulan ga nulis di blog, asli bikin kangen nih jari-jemari tuk bersalsa di atas tuts kompi, menuangkan cerita-cerita biasa saja, namun secuil kata yang terangkai akan sangat berarti bagiku.

Teringat petuah teman yang tinggal jauh dari peradaban (ciee, lebayy). Enggak kok, dianya tinggal di daerah pinggiran Sungai Barito, tepatnya di desa Paminggir, Danau Panggang (ups,, siapa bilang jauh dari peradaban, Lanting di sungai Barito mah sekarang ada hotspotnya, sok sambil maunggut bisa ngenet, hehehe,,, sorry).

weleh,,weleh ngalur-ngidul kemana tuh bu,,

Gitu deh kalo lama ga nulis, jadi blank. Banyak ide dan cerita yang beterbangan begitu saja ke udara. Hingga susah payah tuks ngumpulin lagi. Ibaratnya neh, seperti elektron yang berpindah-pindah , meloncat dari satu kulit atom ke kulit atom lainnya, sambil menyerap dan membebaskan energy, beredar bebas di lintasannya.

Wualahh,, ngomong apalagi tuh,, hehe

Kembali ke petuah teman tadi, dia bilang “menulis adalah kekayaan yang tak ternilai, karena ia merupakan buah karya pikiran kita”. *SEPAKAT*

Sok, sebenar ga ada alasan, aku ga nulis di Bulan Juli tadi karena sibuk bikin LPJ dana BOS. Atau pembelaan diri vacuum karena pusing bikin RPP IPA, dan ngurus IQRO CLUB yang bentar lagi InsyaAllah bakal garap pesantren ramadhan di beberapa sekolah. Fuiiihhh.



Read More......

Sabtu Kelabu

Pernahkah kamu merasa gelisah padahal tidak ada sesuatu yang mestinya digelisahkan?
Pernahkah kamu merasa cemas padahal berada di suatu tempat yang aman dan segala kebutuhan terpenuhi?
Pernahkah kamu merasa bingung dan sepertinya tidak tahu akan berbuat apa padahal banyak yang hal yang seharusnya bisa dikerjakan?



Kata-kata di atas sebenarnya mungkin tidak nyambung banget dengan apa yang akan aku ceritakan di bawah ini :).

07.00 wita
Sabtu pagi yang dingin di musim kemarau berbalut mendung di langit. Dinginnya angin semakin menusuk ketika kumulai berpacu dengan waktu, melintasi pegunungan dan perkampungan bersama motor yupiterZ ku menuju sekolah tempatku mengajar.

Biasanya aku akan senang menyambut hari sabtu karena besoknya hari minggu, hari libur. Walaupun rutinitas tanpa batas yang kujalani menciptakan tak ada weekwend dalam kamusku, namun paling tidak aku bebas dari aktivitas formal.

Sabtu kali ini begitu berbeda dari biasanya, aku merasa berat untuk berangkat ke sekolah, bukannya malas, tapi aku takut melihat satu episode kesedihan di sekolah. Yah, hari sabtu ini bagi raport, hari yang di tunggu oleh murid-murid dalam harap dan cemas. Hari kamis sebelumnya dalam sebuah rapat yang sangat alot antara pro dan kontra, akhirnya diputuskan akan ada satu anak yang bakal ga naik kelas. Keputusan yang sangat pahit sebenarnya, namun tidak banyak kebaikan yang bisa membantu anak murid itu tuk naik kelas, selain nilainya yang pas rata-rata, juga jumlah absen kehadirannya di skul yang sampai 43 hari (cuma absen doang, belum termasuk sakit dan ijinnya). Sesuatu yang tidak bisa ditoleril lagi, karena sekolah kamipun mengutamakan kualitas.

10.00 wita
Sejutek dan sebandel apapun kelakuan murid, takkan pernah meninggal amarah yang terpendam dalam hati seorang guru, karena guru memiliki hati seluas samudera.
Tidak seperti biasanya murid yang bakal tidak naik kelas tadi mendadak jadi pendiam (feeling kali ye), biasanya dia yang paling jutek dan bore.
Ada rasa sedih dan tak tega juga melihat wajah polos dan sendu murid itu. Ah, tapi apa mau dikata, sudah jadi keputusan rapat anak itu tidak naik kelas. Tes, airmataku menetes dalam hening, biarlah sedih ini kusimpan sendiri.

12.00 wita
Aku sudah sampai ke rumah, istirahat sebentar tuk melepas lelah. Gak ada yang kebetulan di dunia ini, semua sudah di atur oleh Allah, tapi emang kebetulan Mama sudah dua hari ini ga ada di rumah (apa sih kata yang tepat tuk mengganti kata ’kebetulan’), pergi ke Banjarmasin ke tempat keluarga Mama yang ngadain walimahan anaknya. Dus, berasa banget ga ada Mama di rumah, harus nyiapin makanan sendiri dirumah, dan yang paling repot adalah mengelola toko, aku dan abah ngos-ngosan melayani pembeli, belum lagi nyari barang yang stoknya habis di toko. Selama ini memang Mama lah yang menghandle semua tetek bengek barang di toko, kami cuma membantu doang. Baru dua hari ditinggal Mama, aku udah merasa kehilangan Mama, betapa berartinya kehadiran Mama dalam keluarga kami.

15.30 wita
Aku bersiap-siap tuk pergi ke skul lagi, tapi bukan skul formal. Yah, setiap sabtu sore aku ngajar di paket B-sekolah nonformal-di desa Banua Hanyar Batumandi, sekitar 15 km dari rumah. Matahari masih terik kala itu, Bismillah, dengan memanjatkan doa kuberharap keselamatan dalam perjalananku. Sudah separuh perjalanan kulalui, terdengar dering sms di hp, setelah menepi di jalan ku buka sms, ternyata dari tutor yang sama mengajar di paket B juga. Isi smsnya

ga usah ke skul Bu, warga belajar ga ada yang datang, saya juga mau pulang neh
.

Ya Allah, aku hanya bisa berkata lirih dalam hati, sedih kembali menyeruak. Akhir-akhir ini memang susah sekali memotivasi warga belajar tuk datang ke skul. Mereka akan banyak yang datang, bila mendengar kabar di skul berbagi buku, baju kaos dan logistik lainnya atau ada ulangan. Dengan terpaksa ke putar balik arah motorku menuju Paringin kembali.

16.30 wita
Aku kembali ke toko, membantu abah menutup toko. Dan seperti biasanya sore hari- alhamdulillah-selalu banyak pembeli yang berbelanja, kadang sampai kewalahan juga melayaninya. Menjelang maghrib baru selesai menutup tokonya.

19.00 wita
Maghrib telah berlalu, sambil istirahat ku Moblog di hp. Mampir di blognya Anazkia. Astaghfirullah ternyata malam ini da konferensi perdana klub buku online (KBO) yang emang udah lama kutunggu. Akupun me-add YMnya Anazkia sebagai syarat tuk ikut konfrens. Waktu terus berjalan, hingga tibalah waktu konfrensnya.

Singkat kata, singkat cerita akupun harus banyak bersabar dan kembali bersedih, ternyata jaringan koneksi malam itu lagi gangguan, di tambah mati lampu pula. Akupun hanya bisa ikut gabung sebentar setelah beberapakali terus mencoba nyambung koneksi, sebelum akhirnya koneksi benar-benar putus. Hiks….hiks sedih banget, padahal aku sudah menunggu lama konfrens KBO nya. But. That’s Ok! Mudahan lain kali bisa ikut gabung di KBO berikutnya...:)

Read More......

Guruku Sayang (Surat cinta dari seorang murid sekaligus guru)

Assalamu’alaikum,

Saya tulis surat ini untuk ibu-ibu dan bapak-bapak guru yang pernah saya kenal sepanjang hidup saya…

Hari ini, setelah kurang lebih 18 tahun berlalu dalam hidup saya bersama ibu dan bapak semua baik di pendidikan formal maupun informal, meninggalkan sepotong episode masa lalu dan kenangan, episode sejarah yang membuat saya kini merasakan bahagia dalam ilmu. Saya akhirnya bisa ada di posisi yang sama seperti yang bapak dan ibu ‘tempati’. Ya. Alhamdulillah, saya juga seorang guru sekarang, setelah melalui perjalanan panjang tentunya.

Perasaan saya? Alhamdulillah senang tentu. Namun kalau kembali menengok ke masa lalu, ada perasaan malu sedikit, karena jujur waktu memutuskan jurusan kuliah, jadi guru bukanlah pilihan pertama saya. Jurusan kuliah pilihan pertama saya adalah teknik sipil. Namun takdir berkata lain, justru pilihan kedualah yang lulus.

Kuliah di fakultas keguruan telah menempa paradigma dan pemahaman saya tentang arti seorang guru. Saat lulus kuliah saya tidak langsung mengabdi jadi seorang guru, tapi malah melenceng kerja di rumah sakit umum daerah, karena dulu saat lulus kuliah ada yang langsung nawarin kerja di RS. Hitung-hitung cari pengalaman kerja, ya sudah saya ambil pekerjaan itu. Namun setelah kurang lebih dua tahun kerja di sana, ada sesuatu yang hilang dalam jiwa, merasa kehilangan cita-cita. Cita-cita yang mulai tertempa saat kuliah. Akhirnya kerja di RS pun saya tinggalkan.

Sekarang, walau baru sebentar menjalani profesi ini. Saya merasakan jadi guru bukanlah pekerjaan yang mudah. Betapa jadi guru bukan hanya sekedar mengajar saja, tapi juga mendidik dan mengabdi. Guru harus jadi garda terdepan dalam penyampaian kurikulum. Padahal tau aja kurikulum kita puadettnya minta ampun. Sementara seorang guru yang baikkan tidak hanya harus menyelesaikan kurikulum itu, dia juga harus menanamkan pemahaman tentang mata pelajaran dan nilai keteladanan ke murid-murid. Jangan sampai murid hanya pintar menghapal doang, padahal nggak ngerti apa-apa. Apalagi kalau hanya pintar nyontek (hiks...hikss... amanah yang berat)

Saya sadar, jadi seorang guru juga harus dibekali kesabaran yang tinggi plus pengertian dan kelapangan hati yang seluas samudera.
Musti banyak istighfar menghadapi murid yang bandelnya minta ampun, jutek atau yang suka cekikikan dalam kelas saat pelajaran berlangsung (wah, kayaknya saya banget tuh waktu jaman skul dulu hehehe,, maaf-maafkan ya Pak, Bu).

Jadi guru berarti siap sabar, siap sport jantung, siap ngajar dan siap ditinggal murid-muridnya.
Seorang guru kerapkali disebutkan punya satu wajah dominan: PENGABDIAN. Bagaimanapun beratnya pilihan menyampaikan informasi, ilmu dan makna pada anak didik adalah pilihan jiwa. Di dalamnya ada resiko kesepian, di dalamnya juga ada hasrat perpanjangan kearifan.
Seorang guru adalah saksi terasing, namun setelah mendidik murid-muridnya, ia tetap tidak akan melupakan mereka, dan tidak akan melepaskan cintanya dari mereka.

Terlepas dari begitu banyaknya tuntutan terhadap sosok bernama guru itu, saya jadi berpikir kalau seharusnyalah sosok guru itu benar-benar merupakan perpaduan antara ketangguhan, kecerdasan, keluasan wawasan, dan sumber kasih sayang.

By the way, sekian dulu surat dari murid sekaligus guru sekarang. Terimakasih yang sebesar-besarnya buat semua guru yang telah berjasa mendidik anak-anak bangsa.
Doakan saya mampu menjadi guru yang bisa jadi orang tua, kakak dan sahabat bagi murid-murid saya. Dan jadi guru yang baik dan benar juga tentunya :)


Wassalam

Read More......

Siapa Bersantai Saat Bekerja, Dia Akan Menyesal Saat Pembagian Upah

Semoga Allah SWT merahmati orang yang telah mengucapkan kalimat berikut,
”Barang siapa bersantai-santai di saat bekerja,
akan menyesal saat pembagian upah,
ia akan menanggung akibat atas kelambanannya dalam menuntaskan pekerjaannya”.

Ada daya tarik tersembunyi terletak dalam antagoni detil-detil kata yang tertuang di situ, pesonanya menyebar pada kerja dan pengaruhnya teramat dahsyat dalam kehidupan.Kalimat ini benar-benar menguatkan kesabaranku.

Berminggu-minggu jari-jemariku bersalsa di atas tuts kompi, merajut semua emosi manusia dalam berbagai peristiwa kehidupanku menjadi sublim, berpacu dengan kantuk yang tak mau ketinggalan untuk menciptakan zona kenyamanan, menguap bersama karbondioksida yang kuhembuskan. Walau kutau kandungan kafein yang berlebih tidak baik bagi kesehatan, namun sepertinya minuman itu sudah menjadi teman setia begadangku. Dan sesekali teman-teman yang baik hati ikut membantu menemaniku menghilangkan rasa kantuk yang secara jahil kadang menggelayut juga di pelopok mataku. Walau hanya lewat dunia maya namun kehadiran mereka sangat berarti bagi diriku. Thank’s for all, Jazakumullahu Ahsanal Jaza’.

Setelah berkutat dengan pekerjaan dan amanah yang terasa tidak ada habis-habisnya, Alhamdulillah akupun telah mendapatkan hasilnya, ganjaran yang tidak pernah terbayangkan olehku, sangat lumayan untuk membiayai kebutuhan bensin dan pulsaku bulan ini. Walaupun tujuanku mengerjakan semuanya bukan karena emosi finansial, terlebih karena rasa profesional yang mulai kuterapkan dalam duniaku.
Dan sangat wajarkan disaat kita selesai mengerjakan tugas dan amanah, orang lain akan memberi imbalan atas pekerjaan itu *paling kecil ucapan terima kasih* dan sangat mubazir kalau kita menolak rejeki itu (teori pribadi saya hehehe,,,).

Lalu apakah kelelahan dan kesibukan telah usai???

Hmm,, tidak ternyata.
Aku kembali mendapat amanah baru yang lebih menantang adrenalin,,

Read More......

Sengketa di Perairan Ambalat

Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba Malaysia memberikan konsesi pengelolaan migas di perairan Ambalat kepada perusahaan minyak asal Belanda, Shell, pada 16 Februari 2005 lalu. Malaysia memberikan konsesi wilayah pertambangan yang mereka namakan Blok ND7 dan ND6, setelah Shell memenangkan blok migas itu bulan September 2004. Malaysia menganggap wilayah perairan di Ambalat adalah masuk dalam wilayah kekuasaan mereka sesuai dengan konvensi PBB tentang hukum laut.

Mengapa Malaysia begitu ngotot dengan klaim mereka atas Ambalat. Malaysia nekat mengklaim Blok Ambalat berdasarkan peta yang dibuat secara sepihak pada tahun 1979. Peta tersebut telah memasukkan Pulau Sipadan dan Ligitan sebagai Wilayah Malaysia. Pada tahun 2002 Malaysia memperoleh legitimasi atas peta tahun 1979 dengan adanya putusan Mahkamah Internasional yang memutuskan Pulau Sipadan dan Ligitan berada di bawah kedaulatan Malaysia..

Dan memang demikianlah adanya. Setelah mengumumkan pemberian konsesi wilayah Ambalat kepada Shell, Malaysiapun bertindak agresif. Kapal-kapal nelayan Indonesia yang masuk wilayah yang mereka klaim di kejar-kejar, bahkan salah satunya ditabrak dengan sengaja. Peristiwa itu terjadi beberapa tahun yang lalu dan dalam waktu yang belum terlalu lama. Dan saat ini Malaysia kembali bertingkah mengobok-obok perairan Ambalat.

Kita tentu heran, mengapa persoalan ini tidak kunjung diantisipasi oleh pemerintah. Padahal kalau mengacu kepada konvensi Hukum Laut pada 1982 di Jamaica, Malaysia tidak masuk dalam kategori negara maritim sehingga tidak bisa mengklaim bahwa kawasan Ambalat itu sebagai wilayah Zona ekonomi Eklusif (ZEE)-nya. Di konvensi itu, yang termasuk negara kepulauan diantaranya Indonesia dan Filipina. Tidak ada Malaysia di sana. Jadi hak Indonesia di wilayah itu sangat kuat dan tidak bisa dipandang sebelah mata.

Sesungguhnya, Malaysia sudah memasukkan wilayah perairan Ambalat sebagai wilayah kedaulatannya sebelum memenangkan Sipadan-Ligitan, yaitu melalui peta yang dibuat tahun 1979 secara sepihak. Peta konvensional itu tentu saja tidak d akui oleh negara-negara yang berbatasan langsung dengan Malaysia, seperti Vietnam, Filipina, Brunei Darussalam, termasuk Indonesia. Akibatnya wilayah laut di perairan daerah Ambalat menjadi sengketa perbatasan.

Sengketa di Peraitan Ambalat harus di selesaikan satu demi satu, karena tidak bisa ditentukan sepihak. Artinya Indonesia tidak berhak menentukan sepihak, dan Malaysia juga tidak berhak menentukan sepihak. Maka jalan terbaik adalah melaksanakan perundingan bilateral diantara keduanya.

Bila perundingan bilateral tidak dapat menghasilkan kesepakatan antara Indonesia dan Malaysia mengenai perairan Ambalat. Mengapa tidak mencoba jalan joint exploration dan joint exploitation. Dengan membagi dua daerah yang bersengketa, kemudian dilakukan eksplorasi bersama. Hasilnya dibagi 50 : 50 antara kedua negara dan dibawa ke negara masing-masing. Mungkin jalan ini bisa menguntungkan kedua belah pihak. Karena, kita ketahui di perairan Ambalat cukup tersedia cadangan minyak. Wilayah itu akan dapat dieksplorasi lebih ekonomis, kalau Indonesia mau menggabungkan kemampuan sumber daya alam kita dengan Malaysia. Juga pada aspek transportasinya, diperlukan kapal-kapal tangker untuk membawanya ke negara masing-masing, atau diperlukan pipa-pipa laut untuk mengalirkan sumber daya alam itu ke negara masing-masing. Jadi bebannya bisa dipikul bersama. Sehingga tidak ada jalan buntu untuk mengatasi persengketaan itu. Tidak ada lagi sekarang di dunia beradab menyelesaikan sengketa bilateral dengan senjata. Itu termasuk dalam penyelesaian cara-cara yang tidak beradab.

Dengan adanya peristiwa Ambalat, hendaknya dapat dijadikan pelajaran bagi pemerintah Indonesia mendatang, betapa perlunya kekuatan armada perang Indonesia diperbaiki kekuatan dan kualitasnya. Karena kalau armada dan peralatan yang dikerahkan untuk mengawasi perairan dan daerah teritorial sudah berusia tua, maka tidak menutup kemungkinan Indonesia akan terus dilecehkan. Dan jika persoalan lemahnya persenjataan militer Indonesia ini tidak segera diantisipasi, maka tentu akan sangat sulit untuk menjaga kedaulatan wilayah Indonesia yang mencapai 7 juta kilometer persegi dengan puluhan ribu pulaunya.[]

Read More......

KAPMEPI Narsis




Walau ga up to date, tapi ga ada kata yang basi kan untuk sebuah tulisan.

Berkisah tentang pelatihan Kader Pengembangan Moral Etika Pemuda Indonesia (KAPMEPI) tingkat Provinsi yang aku ikuti 21-23 Mei di Banjarmasin tadi.
Pelatihan kepemudaan yang difasilitasi oleh Kementerian Negara Pemuda dan olahraga, Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda. Peserta pelatihan terbatas hanya umtuk 50 pemuda pilihan (undangan khusus loh!!!^_*v),utusan berbagai organisasi pemuda yang ada di Kalsel.

Pelatihan yang kegiatannya cuma tiga hari itu benar-benar full materi. Dari materi Heart Intellegent (HI) yang ga selesai-selesai walau sudah jam 01.30 malam, hingga materi HI dilanjutkan Jumat siang sampai jam 11.30. Materi HI telah sukses membuat peserta tersungkur, bersujud, nangis, merasa diri banyak banget punya dosa, benar-benar Tadzkiyatun Nafs alias Pensucian Jiwa, jadi kayak Muhasabah Diri. Belum lagi materi-materi kepemudaan yang bikin Semangat NASIONALISME kami Bangkit, hingga terpatri di alam bawah sadar dan jaring-jaring neuron NKRI HARGA MATI (ciee, ganyang tuh Malaysia yang coba menyentil pulau Ambalat lagi). walhasil pelatihan ini juga sukses melukiskan lingkaran hitam di bawah kelopak mata kami. Pokoke TOP BGT deh kegiatannya.

Read More......

secuil hati yang berdenting

ketika pikiran buntu tuk merawang masa depan
ketika lidah kelu tuk bicara kebenaran
ketika hati bosan tuk mengikhlaskan dinamika kehidupan
ketika jari-jemari kaku tuk berkisah tentang dunia

ke mana ide dan gagasan??
entahlah...
akupun tak tahu...
pikiranku buntu...
tanganku kaku...
seberkas pikiran itupun seakan mengembara ke negeri tak bertuan


maka...
saat ini kucoba tuk menulis
mengumpulkan kepingan abjad yang terlindas jaman
menyulam kata yang tercecer di ujung masa
merangkai tiap-tiap kalimat menjadi puzzle-puzzle cerita
menyibak makna
menguak tabir rahasia
tentang fatamorgana dunia yang menyilaukan

dan...
akupun kembali menulis
menulis apa yang bisa kutulis
menulis lagi tentang aku,,
tentang resah
tentang kecewa
tentang cinta dan asa

Read More......

Cermin Alam






Melalui hembusan angin,
kurasakan kelembutan jiwa
Melalui gemerisik dedaunan,
kudengar riuh zikir alam raya bertasbih
Melalui kicau burung,
kudengar syahdunya harmoni alam
Melalui suara jangkrik,
kuresapi keheningan semesta
Melalui derasnya aliran sungai,
kudapati kesejukan jiwa
Melalui gumpalan tirai-tirai putih di angkasa,
kutemukan kemegahan cakrawala


Setiap perjalanan yang kulalui sehari-hari, memberikanku begitu banyak keindahan. Memberikanku pemahaman. Alam ini diciptakan bukan sekedar pelengkap kenikmatan hidup. Namun ia hadir dengan berjuta pelajaran yang harus kita rengkuh untuk memberi arti dan makna bagi kehidupan kita. Alam ini, dengan segala macam kejadian dan peristiwa yang kita jumpai di atasnya, menjadi perantara bagi kita untuk menemukan kesadaran bahwa hidup ini harus menyembah, bertasbih, bersyukur dan memuji Allah, serta segala aspek yang terkait dengan peningkatan hubungan vertikal dengan Sang Pencipta.

Untuk setiap burung yang berkicau dengan
tasbih Tuhan
Untuk setiap gunung yang bersujud kepada
Allah Ta’ala
Untuk setiap air terjun yang tunduk dengan
khusyu’ kepada ketinggian-Nya
Untuk setiap bunga yang bergoyang-goyang
di alam-Nya
Dan untuk setiap awan yang berjalan atas
perintah Allah di langit-Nya
Mereka semua adalah saudara-saudaraku
yang sama-sama mencintai Allah
Pada sebuah masa di mana jarang sekali ada orang
yang bertakwa
(Abul Fida’ Muhammad Azat)

Read More......

Bacakan ini, sekali saja

Ini adalah kisah nyata yang memporak-porandakan kuatnya cengkraman keyakinan, bahwa persoalan di luar rumah jauh lebih penting. Bagaikan magnet, urusan-urusan itu kerap menguasai hidup kita. Ini pula yang ‘menjerat' seorang ayah dengan anak semata wayangnya.

Malam itu, ia membawa pekerjaannya ke rumah. Ada rapat umum yang sangat penting besok pagi dengan para pemegang saham. Sewaktu ia memeriksa pekerjaannya. Anisa, putrinya yang baru beumur 3 tahun menghampiri, sambil membawa buku cerita yang masih baru. Buku bersampul hijau bergambar peri. Anisa memintanya membacakan buku itu. Namun ayahnya menampik. Dan perhatian ayahnya segera beralih kembali pada tumpukan kertasnya. Anisa berdiri terpaku sambil merayu kembali “Tapi Mama bilang, Papa akan membacakannya untuk Anisa.”

Dengan agak kesal, ayahnya menampik kembali karena merasa sangat sibuk. Ia menyuruh Anisa untuk meminta ibunya membacakan buku itu. ”Tapi Mama lebih sibuk dari Papa” ujar Anisa perlahan. Tak tahan, sang ayah berbicara keras, dengan kalimat penolakan yang sama. Waktu berlalu, Anisa masih berdiri di sebelah ayahnya sambil memegang bukunya. Lama sekali sang ayah mengacuhkan Anisa. Tiba-tiba Anisa mulai lagi. ”tapi Papa, gambarnya bagus sekali dan pasti ceritanya bagus juga, Papa pasti akan suka.”

”Anisa, sekali lagi Papa bilang, lain kali!!”.
Dengan agak keras ia membentak anaknya. Hampir menangis, Anisa menjauh. “iya deh, lain kali, ya Papa lain kali.” tapi Anisa kemudian mendekati ayahnya, menyentuh lembut ayahnya dan menaruh bukunya di pangkuan ayahnya sambil berkata ”Kapan saja Papa ada waktu... Papa tidak usah baca untuk Anisa, baca aja untuk Papa tapi kalau bisa, bacanya yang keras ya, biar Anisa juga bisa mendengarkan.” ayahnya hanya diam.

Kejadian tiga minggu lalu itulah ada dalam pikiran sang ayah. Ia teringat Anisa dengan penuh pengertian mengalah. Anisa yang meletakkan tangannya yang mungil di atas tangan ayahnya sambil mengatakan ”Tapi kalau bisa, bacanya yang keras ya Pa, supaya Anisa juga bisa ikut dengar.”

Karena itulah ia mulai membuka buku cerita yang diambilnya dari tumpukan mainan Anisa di pojok ruangan. Ia mulai membuka halaman pertama, dan dengan parau membacanya. Ia sudah melupakan pekerjaannya yang dulunya amat sangat penting. Ia bahkan lupa akan kemarahan dan kebenciannya pada pemuda mabuk yang kendaraannya menghantam tubuh kecil Anisa, hingga nyawanya pun ikut melayang. Ia membaca halaman demi halaman sekeras mungkin. Berharap andai kata masih ada kesempatan untuk didengarkan Anisa. Berandai, jika saja sebagai ayah ia masih punya waktu untuk pulang.

Tentu, hidup ini bukan diisi dengan pengandaian belaka. Tentu, kita tak perlu berandai-andai, apabila kita tidak mengubur sisi manusiawi kita, untuk pulang pada orang-orang tercinta.

Keluarga, itulah anugerah kehidupan, itulah muara sesungguhnya. Itulah sebenarnya tempat kita berlabuh. Pulang. Berteduh dari ketakutan, kekecewaan, kepedihan, kekeringan fisik maupun hati. Yang lebih mampu memaklumi daripada menghujat. Lebih banyak menerima daripada menuntut. Lebih mudah memperhatikan daripada menghakimi. Semua kita tahu. Namun tetap saja kita seringkali menomorsekiankan keluarga. Bermula dari apa yang kita namakan tuntutan kebutuhan.

Saat-saat perginya orang tua, buah hati, dan saudara kita menghadap Tuhan. Didahului sakit parah berkepanjangan atau tidak. Mendadak atau tidak. Ketika itulah kita baru biasanya tergugu. Tersadar, sebenarnya tak pernah ada cukup waktu bersama mereka. tak pernah ada cukup waktu untuk dinikmati bersama orang tua dan keluarga. Untuk menggambarkan bahwa kita pun sebenarnya mencintai mereka. Dan ketika waktu itu habis, yang ada hanya pertanyaan apakah selama ini kita telah pulang pada mereka, mempersembahkan segala cinta untuk mereka.

Read More......

Rindu disapa hujan, maka biarkan ia basah...


Berintik putik bulir air, mengendap menunggu waktu untuk tumpah ruah. Mataku berubah menjadi kabut, menjelma selaksa awan di ketinggian angkasa. Menyerupai tirai asap yang menggumpal. Mengkristal di langit kelabu. Menunggu angin membawa kotoran di udara. Mengembun mengabur pandangan. Aku merasa sepi dan sunyi. Terpuruk dan terpencil. Kusapukan telapak kanan, aku ingin menyirnakan awan itu. Namun, yang ada hanya buliran-buliran halus menetes deras menjadi hujan di keheningan. Mengalir perlahan pada sungai kecil di mataku. Aku telah merangkai air terjun. Keduanya saling bersisian kiri dan kanan. Semakin deras mengalir seiring berjalannya waktu yang telah ringkih. Belum pernah aku menangis seperti ini, asaku melayang berbalut sayap yang telah patah. Sosok lelaki itu telah pergi bersama rinai hujan yang menghapus bekas jejak langkahnya. Hanya punggung tegapnya yang meninggalkan rindu.

Read More......

Ujian KF



Siang masih terik, matahari persis jatuh tepat di atas ubun-ubunku. Kupacu motor YupiterZ merahku dengan kecepatan sedang, speedometer menunjukkan kisaran 40-60 km/jam. Ingin kupercepat lagi laju motorku, namun itu tak mungkin, karena jalan yang kulewati aspalnya banyak yang berlubang dengan jembatan-jembatan yang sudah tidak layak lagi untuk dilewati.

Waktu itu tanggal 28 April, perjalananku menuju Desa Tundi Kecamatan Awayan yang berjarak kurang lebih 20 km dari kota Paringin. Tujuanku ke sana untuk mengantar soal ujian KF sekaligus menjadi pengawas ujiannya, secara aku sebagai penyelenggara KF di sana. Sebelum meneruskan menulis, ada baiknya aku bercerita tentang apa itu KF. Karena aku yakin tidak semua orang tahu tentang KF.

KF atau Keaksaraan Fungsional, adalah program pemerintah di bidang pendidikan dalam rangka pemberantasan buta aksara. Tujuannya membuat masyarakat kita melek aksara hingga tidak ada lagi warga Indonesia yang buta aksara. Sasaran program tentu saja warga yang belum bisa calistung (baca, tulis dan hitung), hingga warga belajarnya banyak para orang tua bahkan ada juga yang berusia lanjut alias jompo alias nenek-nenek. Dan SKB tempat aku bekerja yang memang konsen berkecimpung dalam dunia pendidikan nonformal dan informal mendapat jatah untuk membina 45 kelompok KF dengan warga belajar sebanyak 450 orang, yang tersebar di delapan kecamatan.

Singkat kata singkat cerita. Siang itu, dengan di bantu 2 orang tutor pengajar KF, ujian pun berlangsung. Saat berada di sana, saat mengikuti proses ujian berbagai macam perasaan berkecamuk dalam diri ini. Ada rasa bangga, haru dan lucu membaur jadi satu ketika melihat nenek-nenek ikut ujian KF. Berbagai tingkah pongah dilakoni mereka, persis seperti anak kecil yang baru ujian. Ada yang gugup. Ada yang tangannya gemetar, saat kudekati dan bertanya ”kanapa Ni jadi manggitir tangan pian” neneknya menjawab ”gugup cu ai”. Hehehe ada-ada aja,,,

Ada juga yang lucu saat sesi ujian membaca. Saat di suruh mengeja mereka dengan logat asli Banjar Pahuluan, mengeja kata-katanya seperti ini ”eS A Sa, sa leh; Teh u Tu, tu leh; SATU leh; atau Beh A Ba, ba leh; Hah A Ha, ha leh; Sa A Sa, sa leh; BAHASA leh”
Ya Allah,, saat itu aku ingin sekali tertawa ngakak mendengarnya, namun tawa itu kutahan sekuat tenaga agar tidak meledak. Takut neneknya tambah malu dan gugup.

Perasaan haru pun tak luput menyertai ujian itu, ada beberapa peserta yang menyerah tidak menyesaikan soalnya karena faktor usia. Mereka bilang pusing, mata sudah tidak jelas lagi melihat, semua huruf kelihatan jadi satu. Memang ku akui soalnya sangat banyak ada 10 lembar soal. Aku aja yang saat itu membantu membimbing menjawab soal ikut pusing apalagi nenek-nenek itu.

Masih banyak sebenarnya yang ingin kuceritakan tentang ujian KF kemarin, namun yang jelas perasaan salut, bangga, haru, bahagia dan lucu akan selalu membekas dalam diri. Dalam keterbatasan kekuatan, kemampuan fisik dan tenaga, ibu-ibu dan nenek itu tetap semangat untuk menuntut ilmu. Bahkan ada nenek yang memang sudah sangat tua, menulis huruf A saja tidak mampu dan tidak bisa, namun beliau tidak pernah absen mengikuti program KF. Padahal kalau ingin berpikiran sempit dengan kolerasi usia yang sudah tua, buat apa belajar calistung, toh tidak akan terlalu membawa manfaat yang banyak. Namun tidak bagi peserta KF, ada semangat besar dan tulus dalam mencari ilmu pengetahuan di sana, yang seharusnya di contoh oleh kita yang masih muda-muda ini.

Menjadi penyelenggara KF memberikanku banyak kisah, renungan, pengalaman dan refleksi dalam fragmen hidup ini. Dan satu hal yang akan selalu kurindukan dari desa Tundi, panorama alamnya yang Subhanallah,, sungguh menyuguhkan alam yang masih hijau dengan hamparan pegunungan yang mengelilinginya. Saat melewati sawah, kebun karet dan pengunungan membuat hatiku selalu mendendangkan syair :

sejuknya alam pengunungan, berhiaskan pepohonan
Jurang dalam tebing nan terjal, menambah kharisma pesona ciptaan Tuhan
Panorama langit biru, semburat awan berarak
Sengat mentari yang teduh, gegap gempita menggelora
Semesta membahana…
(terminal Alam; SPers)

Read More......

coey's

Belajar dan mengajar merupakan fragmen yang tak terpisahkan dalam hidup ini. Pun blog ini dibuat dalam rangka proses pembelajaran.