Untuk Mereka yang Masih Saling Menyapa

Orang yang tak dikenal. Cuma orang luar. Cuma pernah bertemu di jalan. Barangkali itulah ungkapan yang kita pakaikan untuk berbagai orang yang pernah kita jumpai sejenak dalam perjalanan. Namun boleh jadi orang yang tak dikenal, bertemu cuma sebentar, mereka yang kemudian menyisakan kesan “aneh”, karena ternyata mau peduli, mau berbagi cerita. Meski setelah itu kita kembali terputus dengan meraka.

Teringat kata A’a Gym, “mustahil seseorang dipertemukan dengan orang lain tanpa menjadikannya sebagai ilmu”.

Pengalaman itupun ku alami sendiri ketika meneruskan perjalanan dari Martapura menuju Banjarmasin (lanjutan cerita antara Martapura, Sungai Tabuk dan Banjarmasin).

###

Ada apa dengan Sungai Tabuk??
Mungkin bagi kebanyakan orang, sungai Tabuk tidak terlalu berkesan. Tapi tidak bagi jiwa petualangku. Sore itu setelah dari Martapura, aku memilih ke Banjarmasin lewat Sungai Tabuk. Ada beberapa alasan kenapa kupilih jalan pintas itu.

Pertama, ingin cepat sampai ke Kayutangi, karena konon katanya lewat sana lebih cepat. Kedua, lewat sungai Tabuk merupakan pengalaman pertamaku,, jujur walau pernah tinggal 7 tahun di Banjarmasin, dan sering bolak-balik Banjarmasin – Martapura. Namun sekali-kali tidak pernah lewat jalan itu.

Akhirnya dengan berbekal keberanian dan sedikit petunjuk jalan dari si Mbak “ikuti jalan aspal ganal ja, sampai aja tu kena ke banjar”. Aku meneruskan perjalanan, menikmati suguhan alami panoramanya. Dan walhasil pada simpang tiga jalan yang sama luasnya aku terhenti.

Bingung jalan mana yang harus kuambil, dengan berbekal rumus ngawur mengenai konsep tersesat “pilih terus arah kanan, kalau tersesat di jalan, nanti bakal ketemu sama jalan yang benar”. Dan akhirnya ilmu sok tau aku benar-benar gagal,, aku tersesat pada jalan yang rusak T_T.

Dan kali ini pepatah “malu bertanya sesat di jalan” emang jadi pelajaran berharga.
Setelah yakin berada pada jalan yang benar, kulanjutkan perjalanan.

Sore semakin beranjak petang, gumpalan awan semakin menghitam di ufuk sana. Tirai kabut air terlihat jelas di ujung jalan. Tes, tetesan air hujan mengenai telapak tanganku, perlahan namun semakin deras curahan airnya tumpah. Kuputar balik motorku untuk berteduh di semua warung di pinggir jalan. Ternyata ada bapak-bapak juga yang ikut berteduh di warung.

Ketika itu sempat terjadi percakapan antara aku dan si bapak-bapak (selanjutnya ditulis Bapak 1 dan Bapak 2).

Sambil asyik minum teh hangat,, obrolan kecil mulai terjadi:

Bapak 1: Dari mana pak?
(matanya menatap ke arah bapak 2,, hohoho nggak mungkin menatap aku kan :)

Bapak 2: dari Negara, eh tepatnya Babirik (sepertinya si bapak 1 takut orang itu tidak familiar dengan nama Babirik)

Bapak 1: o ya, musim apa sekarang di sana?

Bapak 2: Tidak musim apa-apa, sampean mau kemana juga?
(cerita mengalir dari percapakan mereka,, dan aku waktu itu cuma nguping pembicaraan, sambil memperhatikan anak-anak yang main sepakbola. Tak sadar hati ini merutuk. “MasyaAllah, anak-anak. Tidak tau apa kalau main bola di tengah lapang, sangat berbahaya, bisa-bisa di sambar petir, belum lagi beceknya yang minta ampun”.)
Bapak 2: Ke Marabahan, istri saya orang sana (kupingku berdiri mendengar kata Marabahan, sepertinya ada peluang buat nimbrung)

Saya: ke Marabahan ya Pak? Tanyaku. Gimana jembatan Ulin dekat tikungan itu, masih rusak yah?? (sok tau ku keluar :)

Bapak 2: oh jembatan itu,, sekarang sudah diperbaiki. Dulu saya pernah kecelakaan di sana, menabrak pagar jembatan dan motor saya jatuh ke sungai. waktu itu malam-malam istri saya mau melahirkan, saya panik dan lupa sama jembatan itu.

Saya: wahh,, tertanya kita sama pak, saya juga pernah menabrak pagar jembatan itu. Muka motor saya rusak berat, setangnya bengkok, dan tebengnya patah. Untungnya motor saya tidak ikut nyungsep ke sungai, dan saya Alhamdulillah baik-baik aja. Cuma lutut aja kebiruan dan sempat tidak bisa jalan sebentar, karena terhantam pagar jembatan juga. (huaa,, kami sama-sama punya pengalaman buruk di jembatan itu).

Bapak 1: “Mau kemana dek?” Bapak 1 ikut ngobrol jua.

Saya : mau ke Kayutangi, katanya lewat sini lebih dekat. Dan ini adalah pertama kalinya saya lewat jalan ini.

Bapak 1: kalau siang lewat sini aman-aman saja, tapi kalau malam sebaiknya jangan lewat sini, apalagi sendirian. Karena banyak jalan-jalan yang masih sepi dari rumah penduduk, rawan kejahatan. Dan berpesan singkat “hati-hati”

Saya : oh gitu yah pak, terimakasih pesannya.

Setengah jam berlalu, hujan mulai reda. Cuma gerimis-gerimis kecil tersisa. Saatnya untuk melanjutkan perjalanan. Setelah membayar teh hangat kami pun beranjak meninggalkan warung itu.

###

Ada percakapan kecil antara bapak-bapak itu yang berkesan, tentang basa-basi perkenalan “musim apa di sana sekarang”. Sebuah basa-basi biasa namun bisa mengakrabkan suasana. Basa-basi terkadang diperlukan dalam kehidupan. Namun, jujur walau terkadang aku muak dengan basa-basi yang tidak mengandung empati, basa-basi yang penuh embel-embel.

Akhirul kalam...
Setiap perjalanan yang kulalui sehari-hari, memberikanku begitu banyak keindahan. Memberikanku pemahaman. Alam ini diciptakan bukan sekedar pelengkap kenikmatan hidup. Namun ia hadir dengan berjuta pelajaran yang harus kita rengkuh untuk memberi arti dan makna bagi kehidupan kita.


Read More......

Antara Martapura, Sungai Tabuk, dan Banjarmasin


Siang itu. Matahari terus beranjak naik, meninggalkan panas di ubun-ubun. Terlihat para peserta pelatihan keluar ruangan sambil menenteng sebuah amplop dan sertifikat. Pelatihan selama 5 hari di Martapura telah usai. Perlahan tapi pasti para peserta mulai meninggalkan lokasi, pulang ke daerah masing-masing.

Ketika itu hari Sabtu pukul 14.00 wita. Aku masih terpaku, bingung antara mau pulang atau tidak, suara hati dan logika mulai berkelahi. Yah,, akhirnya logika yang menang, ga mungkin aku berani mengambil resiko naik motor sendirian, melintasi perjalanan 170 km kurang lebih, dan kemalaman di jalan. Akhirnya kuputuskan untuk pulang besok pagi minggu.

Ho ho ho,, kali ini bukan cerita tentang pelatihan tutor paket C yang baru saja aku ikuti, tapi ceritaku belajar dari perjalanan...


Mumpung masih hari Sabtu dan besoknya masih hari libur, kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Banjarmasin. Namun sebelum itu mampir dulu di rumah kerabat di Martapura.

Siang terus beranjak, cahaya putih membara belum meredup, namun sesekali awan hitam menutupi teriknya sang mentari. Meninggalkan sedikit hawa dingin pada bumi. Episode pembelajaran di mulai dari sini. Pertama yang kulakukan adalah mampir di toko buah, membeli sedikit buah untuk kerabat yang akan kukunjungi.

Bab I pembelajaran

Mampir di rumah kerabat, sebut saja beliau dengan Mbak, rumahnya berada di Tanjung Rema, Martapura. Mbak yang perjuangan hidupnya sangat keras, mbak yang punya 3 orang anak, dengan anak terakhir yang masih balita mengalami cacat fisik. Hidup terpisah dengan suaminya yang tinggal di Handil Bakti Banjarmasin, semua ini di lakukan untuk mencari nafkah keluarga. Si Mbak pun ternyata tidak mau berpangku tangan menunggu pemberian sang suami saja. Dengan sepeda butut dia bersama anak balitanya tiap hari mendatangi salah satu rumah di komplek perumahan, menjadi buruh cuci bulanan, dengan gaji 150 ribu perbulan. Gaji yang sangat rendah, jauh di bawah UMR. Aku sempat protes dan berkata “Kok, bisa serendah itu gajinya. Namun raut keikhlasan terpancar di wajahnya, dan dengan santai beliau berkata “yah, daripada tidak ada pekerjaan buat nambahin biaya hidup yang semakin tinggi”. Pembelajaran pertama sudah selesai, dan sebelum meninggal tempat Mbak, aku memberikan sekantong buah dan sedikit uang untuk belanja si kecil, hitung-hitung berbagi rejeki honor pelatihan .

Bab II pembelajaran

Setelah dari rumah si Mbak, ku lanjutkan perjalanan ke rumah kerabat yang satu lagi di Jalan Pendidikan. Masih sama di Martapura juga. Supaya mudah ku sebut saja beliau dengan bude. Bude yang satu ini hidupnya sangat bersahaja, separuh dari rumahnya masih berlantaikan tanah. Punya anak 8 orang, ah sampai nama-nama anak beliaupun aku sering lupa. Anak yang banyak ternyata tidak membuat rejeki beliau ikut banyak. Malah anak beliau yang sudah menikah sering ikut numpang makan di rumahnya, hingga pembagian jatah piring ikut bertambah. Setiba di rumah beliau, sontak sambutan hangat mengalir dari bibir beliau. Kedekatanku dengan beliau membuat ragam cerita tumpah ruah begitu saja. Mulai dari cerita anak lelaki beliau yang berinjak remaja terlibat pergaulan bebas, hingga sering mabuk-mabukan sama gengnya. Duh,, miris hati ini mendengarnya.

Hening sejenak,,
Beliau kembali bicara, namun kali diiringi tawa-tawa kecil, beliau berkata “San, tuh coba lihat meja makan Bude”,, sambil senyum ku bilang “ah,, ngapain bude, orang sudah makan juga waktu sebelum penutupan pelatihan tadi, masih kenyang kok”.

Hening kembali menyeruak,,

Kemudian lirih beliau berkata “tidak ada makanan apa-apa di meja, tidak ada beras yang bisa di masak, dan tidak ada uang untuk membeli beras. Pakde kamu masih belum pulang dari bekerja, mudahan sore nanti pakde bawa uang. Untungnya adik-adikmu yang kecil tidak rewel minta makan. Yah, kalau ada nasi mereka makan, kalau tidak mereka diam aja”.

Tes,, airmata menetes di hatiku. Yah, Cuma di hati, sekuat tenaga ku tahan agar buliran-buliran halus tidak menetes dari mata ini. Tak tau dan tak mengerti harus berkata apa. Apakah ini sebuah kepasrahan, ketidakberdayaan, atau malah sebuah kemalasan ketika hanya mengharap pemberian dari pakde. Berbeda sekali dengan mbak yang tak kenal lelah menjadi buruh cuci untuk membantu suami mencari nafkah.
Seperti sebelumnya, ketika ingin pulang kuberikan kantong buah yang satunya lagi dan kembali berbagi rejeki uang honor pelatihan. Masyaallah beliau menangis menerima sedikit uang yang kuberikan. Dan spontan beliau memanggil anak lelakinya, beliau berkata ”Nduk, ini kakakmu ada kasih sedikit uang, kamu ke toko wan haji yah, beli beras sama minyak tanah”.

Tak mau berlama-lama di sana, aku langsung pamit pulang untuk meneruskan perjalanaan ke Banjarmasin.

Sebuah pelajaran penting dalam hidupku dari dua fragmen yang berbeda. Antara kegigihan dan kepasrahan…

Situasi hidup yang diberikan Allah kepada memang berbeda-beda. Tingkat kesulitannya pun beragam. Di antara kita, ada banyak orang yang sangat jauh dari kemudahan-kemudahan. Mereka bercengkerama dengan situasi yang seolah memaksanya untuk pasrah. Namun di sisi lain, ada pula di antara yang melimpah dengan kemudahan.

Kesulitan dan kemudahan, sebenarnya adalah dua situasi yang selalu akan kita temui. Ia bisa menjadi pilihan, tetapi terkadang lahir dari sebuah tekanan, paksaan atau faktor yang lain.

Hahayy,, melankolis cerita kali ini. Eiitt,, tunggu dulu cerita masih bersambung, karena ini baru secuil cerita di Martapura, belum sampai ke Banjarmasin.

Read More......

Futur Menulis


Tiada kata dan bahasa yang patut diucap kecuali kata malu. Malu menyebut diri sebagai blogger. Terlalu lama jemari ini tidak menari lincah, merangkai hentakan-hentakan ritmis. Terakhir aku menulis saat bulan kemerdekaan, di mana jemari inipun merasa bebas bersalsa. Namun setelah bulan kemerdekaan lewat, kembali jemari ini terkungkung. Terkungkung oleh rutinitas dan rasa malas. Tidak ada alasan dan alibi memang, kecuali rasa malas. Malas untuk memulai menulis, aku terlena dengan kesibukan dan rutinitas. Kalau dalam istilah Tarbiyah, saat ini aku sedang Futur. Futur menulis. Disebut sedang hibernasi ataupun hiatus juga tidak pantas, karena aku sering berkomentar dan menulis status di facebook.

Jiaahh,,

Mungkin agak lucu kalo aku menjadikan amanah tambahan di luar ngajar sebagai alasan futur menulis, namun memang begitulah adanya. Entah kenapa amanah yang berhubungan dengan uang selalu jadi jatahku. Dulu waktu masih kuliah, 2 periode kepengurusan organisasi aku bercokol di departemen dana dan usaha. Waktu kerja di RS juga ngurusin klaim alat operasi. Dan ketika pindah haluan, pulang kampung, mengajar, dan akhirnya mendirikan Iqro Club Balangan bersama teman-teman, lagi-lagi aku di minta jadi bendahara umum. Mencoba meraba-raba alasannya, apa mungkin ini karena aku seorang pedagang??? *weleh-weleh*. Dan, semua itu Alhamdulillah masih bisa kulaksanakan.

Namun sekarang yang benar-benar bikin kalang kabut ketika aku menjadi bendahara di sekolah baru. Penunjukan sepihak oleh kepsek tanpa bisa kutolak. Bayangkan aku yang berlatar ilmu eksak dari SMA sampai kuliah harus berhadapan dengan rencana anggaran, LPJ dan pajak. Belajar dan belajar, nanya kesana-kemari tentang segala tetek bengek dana BOS, sudah kulakukan. Tapi tetap saja lelet, faktor usia juga kali yah, sekarang tambah susah aja tuk menangkap ilmu (ngawur.com hehehe,,).
Ada yang bertanya” loh, bendahara lamanya mana??” hmm… jangan tanyakan itu, karena bendahara lama seolah-olah lepas tangan.

Begadang tiap malam sudah jadi rutinitasku sekarang.
Dan, apabila suatu hari teman-teman berpapasan dengan perempuan yang agak sedikit gendut (karena kebanyakan ngemil tengah malam kali ye, hehehe) lemas, pucat, tak terawat, gurat letih yang nampak jelas di wajah, mata yang lelah karena kurang tidur, mungkin itulah aku. Yah, aku hanya sedikit lelah. itu saja. Tapi aku akan berusaha memberikan senyum terindah untuk kalian saat berjumpa (Oops,, lebayy)

Bagaimana aku harus menjelaskan? Teman...aku hanya manusia lemah yang jauh dari kesempurnaan. Aku tak berani berjanji tuk sering menulis,, namun aku akan berusaha mengikat imaji-imaji agar tidak terbang bebas, hingga di saat aku ingin bercerita, ku bisa menariknya kembali.



Read More......

JANGAN MAU DIJAJAH..!!!

“Sekali MERDEKA TETAP MERDEKA, selama semangat itu masih DI JIWA SEORANG SANG MERDEKA”

Kata-kata di atas merupakan forward sms dari seorang teman nun jauh di sana, persis pada tanggal 17 Agustus tadi. Tergelitik hati untuk menulis tentang kemerdekaan juga saat masih hangat-hangatnya momentum 17an, namun apa daya aktivitas dan rutinitas tak mengijinkannya. Alhamdulillah baru bisa sekarang nulisnya.

Kalau melihat kata MERDEKA maka tak luput hati ini juga akan teringat dengan kata JAJAHAN.

Menilik kembali sms teman di atas, “JIWA SEORANG SANG MERDEKA”.
Timbul pertanyaan benarkah diri kita sudah merdeka?
Atau malah saat ini diri kita sedang terjajah?
Terjajah oleh kelakuan kita sendiri?Wallahu’alam

Tengoklah hari-hari yang sudah berlalu dan boleh jadi kita terkesima. Karena, ternyata selama ini diri kita sendiri yang menjajah hidup kita lewat berbagai cara. Padahal sebenarnya kita bisa menjadi manusia yang merdeka. Manusia yang mengetahui apa yang ingin kita tuju, yang mampu merancang langkah-langkah untuk mencapainya, dan tahan dalam proses merancang dan meraihnya.

Pemisah antara merdeka dan terjajah sangatlah tipis. Pemisahnya ada pada hati kita sendiri. Saat kita memutuskan memilih antara berdosa atau beramal shalih, antara meniti jalan kebaikan atau tenggelam dalam kemungkaran. Antara menyerahkan penghambaan kepada Allah atau kepada hawa nafsu sendiri.

KEMERDEKAAN SEJATI adalah KEMERDEKAAN IMAN. Tak ada yang lebih merdeka dari orang beriman. Sebab ia tidak merasa memiliki penjajah. Tidak juga orang lain. Kemerdekaan memberi arti pada banyak fungsi kehidupan. Secara social, hanya orang-orang merdeka, yang bisa meniti jalan kedermawanan. Mereka 0rang-orang yang tidak harus merasa dijajah oleh duniawinya, oleh kekayaannya. Mereka meletakkan uang di atas tangannya. Bukan memenuhi isi otaknya. Maka ia bisa berbagi, memberi, tetapi ia juga merasa sah untuk menikmati apa yang halal dari karunia Allah. Ia mengerti kapan harus tampil dengan pantas, makan dengan pantas, sebagai penjabaran dari menunjukkan ‘bekas-bekas’ nikmat Allah.

Tidak ada penderitaan melebihi pahitnya dijajah diri sendiri. Terlebih bagi orang-orang yang tidak menyadari. orang yang tidak menyadari kenyataan bahwa DOSA, KESALAHAN, JALAN HIDUP KOTOR, KEMALASAN, adalah PENJAJAHAN ATAS DIRI SENDIRI, yang akan mengalami situasi dimana jiwanya terasa kering dan gersang. Mungkin ia bisa menghibur diri dengan nyanyian bahagia, atau mimpi-mimpi duniawi yang megah. Tetapi sebenarnya hal itu tidak menghapus kegalauan.
Di batas ini kesadaran punya peran besar dalam mengantarkan kita menjadi manusia merdeka. Ya, kesadaran. Pengakuan paling mendasar dari hati nurani dan suara hati. Orang-orang yang beriman bukan berarti tak pernah salah, atau tak pernah dosa. Mereka pernah salah, pernah berdosa, tapi kesadaran yang selalu dijaga nyawa dan nyalanya, telah membuat orang mukmin punya system recovery yang handal. Allah swt mengabarkan, “sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS, Al-A’raf:201)

MENJADI MANUSIA YANG MELEPASKAN PENJAJAHAN PADA DIRI SENDIRI, INILAH PUNCAK KESADARAN YANG MELAHIRKAN KEMERDEKAAN, SEKALIGUS MELAHIRKAN KEBAHAGIAAN.





Read More......

Geng Hantu vs RT Sembilan


Tak ingin larut terlalu lama dalam kesedihan atas meninggalnya 2 seniman Indonesia. Akupun mulai mencoba mengais-ngais memori yang terpendam di otak. Sebuah momentum, cerita indah saat liburan sekolah bulan Juli tadi.

Momentum yang terekam indah adalah reunian dan syukuran alumni Bio 01 di Banjarmasin. Outbond Iqro club dan sekolah nanti aja insyaallah diceritain.

Sekian lama tak bertemu teman2 kuliah dulu, kurang lebih 3,5 tahun setelah kelulusan. Alhamdulillah bisa kembali ngumpul ma teman2 satu perjuangan di kampus. Acara reunian ini tercetus saat angkatan kami banyak yang lulus tes CPNS tahun 2009, rekor lulus cpns terbanyak dibanding tahun2 sebelumnya. Sok, sebagai luapan kegembiraan kita-kita (hmm,,, kita!! Mereka aja kale, aku juga hehe) diadainlah acara reunian dan syukuran di kampus. Dengan sponsor utama yang udah dapat gaji ke13 (waduuuh ada yang merasa kerampokan tuh gajinya).


By the way,, dengan perjuangan keras penuh titik peluh dan pulsa tuk ngabarin dan ngumpulin teman2 dari bulan Februari, alhamdulillah akhirnya kamis 9 Juli kemarin baru bisa dilaksanain. Sempat berkhayal andai bisa konferens dengan teman-teman, tentu tidak akan sesulit itu komunikasi antara kami. Tidak bolak-balik sms ke sana dan konfirmasi ke sini.

Tiga tahun tak berjumpa, ternyata sifat teman2 ga berubah banyak. Masih pada suka cekakak-cekikik, ada yang tetap bore (bore apa yah??1), ada yang masih setia dengan plin-plannya,, pokoke masih berjuta rasanya...

Acara syukurannya di adain di dua tempat, di kampus dan rumah Nini Ayya (Sorayya Efyunie, ssttt... jangan bilang2 yah, Ayya adalah putri SEKDAKOT Banjarmasin!!!). Sempat sedih juga sih waktu di kampus tidak bisa ketemu sama semua dosen. Terutama Pak Zai, saat dikonfirm beliau masih dalam perjalanan menuju kampus, dan saat itu kami tidak bisa menunggu beliau lagi, kami harus segera meluncur ke rumah Nini Ayya karena sebagian teman2 udah pada kumpul di sana. Padahal neh aku pengen banget ketemu sama Pak Zai, secara beliau adalah dosen pembimbing skripsiku yang baik banget.

Sesampai di rumah Nini Ayya, ternyata di sana sudah ada Datu Diah bersama suami en anak laki2nya, ada Kai Aji sama Istri mudanya –Acil Ana- yang ternyata udah punya momongan (istri pertama Kai aji adalah Nini Ayya), ada Abang Sani (masih jomblo euy), Cimay, Acil Rahmi sama si kecil juga. Mawar (putri dari Paminggir :)), Nana-Owen, Erma, Eka, Tilah, Ifit, Memes yang sudah tampak kelelahan mengarak perutnya (maklum hamil tua) dan tak ketinggalan Mba Muly yang kemayu xi...xi...xi. Serta masih banyak teman-teman yang ga disebutin namanya (karena sebagian emang ga datang,, hiks hiks)

Cerita seru, sedih, dan lucu mengalir begitu saja dari mulut kami, seputar berita teman- teman selama terpisah. Cerita di mulai dari teman yang di tembak sama kakak tingkat, tapi cuma sempat ngedate 1 minggu habis tuh putus. eee,,saat reunian sudah menggandeng pendamping baru. *geleng-geleng*.
Belum lagi kasusnya si Wiwid yang dapat finalty katanya dari Ortu hingga ga bisa datang ke reunian.

Reuni berakhir dengan acara makan-makan, jam 3 sudah pada bubar. Selain itu juga empunya rumah-Nini Ayya-harus segera ke bandara karena ingin pergi ke Jakarta, penerbangan jam 4 sorenya.

setelah selesai reuniannya, kami lanjut dengan roadshow ke rumah Nyonya Sugi, teman yang satu ini ga bisa datang karena baru habis melahirkan, dengan bayi kembar pengantin xi,, xi,, xi,, lucu sekali bayinya. Tak lupa nyamperin si biang kerok Nisa,, ini dia neh satu-satunya teman kami yang udah bergelar Master, bulan Maret tadi dia nyelesaiin S2nya di Malang. Dia adalah sie panitia di Banjarmasin yang menjembatani komunikasi dengan dosen di kampus. Tapi malangnya saat hari H, Nisa ga datang, Hp dia dihubungi ga diangkat. Waktu di tanyain kenapa ga datang, dia jawab ”lupa”, trus kenapa Hp ga di angkat waktu kami hubungi, dia bilang 'Hp ketinggalan di rumah” (GUBRAKKK deh teman yang satu ini, kuliah S2 bikin otaknya penuh kali ye,, he he he)

Ok,,, lalu apa hubungannya dengan Geng Hantu ma Rt Sembilan???
Ho Ho Ho,,, itu adalah nama populasi di komunitas angkatan Bio 01.



Read More......

Si Burung Merak terbang bersama I Love You Full



INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN,,,,

“Setiap Yang Bernyawa Pasti Mati,,,”


Tanah merah di pusara Mbah “I Love You Full” Surip belum kering. Sebelumnya sempat tidak percaya ketika chating ada teman yang memberi tahu kepergian beliau. Karena merasa Mbah Surip baru beberapa bulan ini saja terkenal lewat lagunya ‘’Tak gendong kemana-mana”. Memang usia, jodoh dan rejeki hanya Allah yang Maha Mengetahuinya. Mbah Surip pun menutup usia pada tanggal 4 Agustus 2009.

Dunia Seni Indonesia kembali berduka. Tokoh teater modern Indonesia, WS Rendra, yang dikenal dengan julukan Si Burung Merak, meninggal dunia pada usia 74 tahun. Sejak beberapa waktu lalu lewat berbagai media memang sempat dikabarkan beliau mengalami berbagai gangguan kesehatan.

WS Rendra sang Maestro Sastra, ahli dalam mengupas tentang lunturnya etika dan budaya lokal yang memunculkan banyak persoalan di masa sekarang ini. Begitulah Rendra, sampai di usia senjanya ia masih kritis kepada penguasa. Karya-karya beliau takkan lekang di makan zaman. Seniman senior WS Rendra menutup usia pada tanggal 6 Agustus 2009.

Bukan latah ikut-ikutan nulis tentang kepergian 2 Seniman Indonesia, namun saya ikut merasa kehilangan 2 Seniman besar negeri ini. Ada rasa sedih menyeruak dari dalam hati, terlepas dari kontraversi yang melanda Mbah Surip akhir-akhir ini.

SELAMAT JALAN SI BURUNG MERAK,,
TERBANGLAH DENGAN DAMAI MENUJU TEMPAT-NYA
DAN
MBAH SURIP,,
SEMOGA MENDAPAT “I LOVE YOU FULL” DARI YANG MAHA KUASA



Read More......

Seruni di hati Coey_paringin

Alhamdulillah,,,

Senang banget bisa nulis lagi, setelah sekian lama vacuum.

Satu bulan ga nulis di blog, asli bikin kangen nih jari-jemari tuk bersalsa di atas tuts kompi, menuangkan cerita-cerita biasa saja, namun secuil kata yang terangkai akan sangat berarti bagiku.

Teringat petuah teman yang tinggal jauh dari peradaban (ciee, lebayy). Enggak kok, dianya tinggal di daerah pinggiran Sungai Barito, tepatnya di desa Paminggir, Danau Panggang (ups,, siapa bilang jauh dari peradaban, Lanting di sungai Barito mah sekarang ada hotspotnya, sok sambil maunggut bisa ngenet, hehehe,,, sorry).

weleh,,weleh ngalur-ngidul kemana tuh bu,,

Gitu deh kalo lama ga nulis, jadi blank. Banyak ide dan cerita yang beterbangan begitu saja ke udara. Hingga susah payah tuks ngumpulin lagi. Ibaratnya neh, seperti elektron yang berpindah-pindah , meloncat dari satu kulit atom ke kulit atom lainnya, sambil menyerap dan membebaskan energy, beredar bebas di lintasannya.

Wualahh,, ngomong apalagi tuh,, hehe

Kembali ke petuah teman tadi, dia bilang “menulis adalah kekayaan yang tak ternilai, karena ia merupakan buah karya pikiran kita”. *SEPAKAT*

Sok, sebenar ga ada alasan, aku ga nulis di Bulan Juli tadi karena sibuk bikin LPJ dana BOS. Atau pembelaan diri vacuum karena pusing bikin RPP IPA, dan ngurus IQRO CLUB yang bentar lagi InsyaAllah bakal garap pesantren ramadhan di beberapa sekolah. Fuiiihhh.



Read More......