Untuk Mereka yang Masih Saling Menyapa

Orang yang tak dikenal. Cuma orang luar. Cuma pernah bertemu di jalan. Barangkali itulah ungkapan yang kita pakaikan untuk berbagai orang yang pernah kita jumpai sejenak dalam perjalanan. Namun boleh jadi orang yang tak dikenal, bertemu cuma sebentar, mereka yang kemudian menyisakan kesan “aneh”, karena ternyata mau peduli, mau berbagi cerita. Meski setelah itu kita kembali terputus dengan meraka.

Teringat kata A’a Gym, “mustahil seseorang dipertemukan dengan orang lain tanpa menjadikannya sebagai ilmu”.

Pengalaman itupun ku alami sendiri ketika meneruskan perjalanan dari Martapura menuju Banjarmasin (lanjutan cerita antara Martapura, Sungai Tabuk dan Banjarmasin).

###

Ada apa dengan Sungai Tabuk??
Mungkin bagi kebanyakan orang, sungai Tabuk tidak terlalu berkesan. Tapi tidak bagi jiwa petualangku. Sore itu setelah dari Martapura, aku memilih ke Banjarmasin lewat Sungai Tabuk. Ada beberapa alasan kenapa kupilih jalan pintas itu.

Pertama, ingin cepat sampai ke Kayutangi, karena konon katanya lewat sana lebih cepat. Kedua, lewat sungai Tabuk merupakan pengalaman pertamaku,, jujur walau pernah tinggal 7 tahun di Banjarmasin, dan sering bolak-balik Banjarmasin – Martapura. Namun sekali-kali tidak pernah lewat jalan itu.

Akhirnya dengan berbekal keberanian dan sedikit petunjuk jalan dari si Mbak “ikuti jalan aspal ganal ja, sampai aja tu kena ke banjar”. Aku meneruskan perjalanan, menikmati suguhan alami panoramanya. Dan walhasil pada simpang tiga jalan yang sama luasnya aku terhenti.

Bingung jalan mana yang harus kuambil, dengan berbekal rumus ngawur mengenai konsep tersesat “pilih terus arah kanan, kalau tersesat di jalan, nanti bakal ketemu sama jalan yang benar”. Dan akhirnya ilmu sok tau aku benar-benar gagal,, aku tersesat pada jalan yang rusak T_T.

Dan kali ini pepatah “malu bertanya sesat di jalan” emang jadi pelajaran berharga.
Setelah yakin berada pada jalan yang benar, kulanjutkan perjalanan.

Sore semakin beranjak petang, gumpalan awan semakin menghitam di ufuk sana. Tirai kabut air terlihat jelas di ujung jalan. Tes, tetesan air hujan mengenai telapak tanganku, perlahan namun semakin deras curahan airnya tumpah. Kuputar balik motorku untuk berteduh di semua warung di pinggir jalan. Ternyata ada bapak-bapak juga yang ikut berteduh di warung.

Ketika itu sempat terjadi percakapan antara aku dan si bapak-bapak (selanjutnya ditulis Bapak 1 dan Bapak 2).

Sambil asyik minum teh hangat,, obrolan kecil mulai terjadi:

Bapak 1: Dari mana pak?
(matanya menatap ke arah bapak 2,, hohoho nggak mungkin menatap aku kan :)

Bapak 2: dari Negara, eh tepatnya Babirik (sepertinya si bapak 1 takut orang itu tidak familiar dengan nama Babirik)

Bapak 1: o ya, musim apa sekarang di sana?

Bapak 2: Tidak musim apa-apa, sampean mau kemana juga?
(cerita mengalir dari percapakan mereka,, dan aku waktu itu cuma nguping pembicaraan, sambil memperhatikan anak-anak yang main sepakbola. Tak sadar hati ini merutuk. “MasyaAllah, anak-anak. Tidak tau apa kalau main bola di tengah lapang, sangat berbahaya, bisa-bisa di sambar petir, belum lagi beceknya yang minta ampun”.)
Bapak 2: Ke Marabahan, istri saya orang sana (kupingku berdiri mendengar kata Marabahan, sepertinya ada peluang buat nimbrung)

Saya: ke Marabahan ya Pak? Tanyaku. Gimana jembatan Ulin dekat tikungan itu, masih rusak yah?? (sok tau ku keluar :)

Bapak 2: oh jembatan itu,, sekarang sudah diperbaiki. Dulu saya pernah kecelakaan di sana, menabrak pagar jembatan dan motor saya jatuh ke sungai. waktu itu malam-malam istri saya mau melahirkan, saya panik dan lupa sama jembatan itu.

Saya: wahh,, tertanya kita sama pak, saya juga pernah menabrak pagar jembatan itu. Muka motor saya rusak berat, setangnya bengkok, dan tebengnya patah. Untungnya motor saya tidak ikut nyungsep ke sungai, dan saya Alhamdulillah baik-baik aja. Cuma lutut aja kebiruan dan sempat tidak bisa jalan sebentar, karena terhantam pagar jembatan juga. (huaa,, kami sama-sama punya pengalaman buruk di jembatan itu).

Bapak 1: “Mau kemana dek?” Bapak 1 ikut ngobrol jua.

Saya : mau ke Kayutangi, katanya lewat sini lebih dekat. Dan ini adalah pertama kalinya saya lewat jalan ini.

Bapak 1: kalau siang lewat sini aman-aman saja, tapi kalau malam sebaiknya jangan lewat sini, apalagi sendirian. Karena banyak jalan-jalan yang masih sepi dari rumah penduduk, rawan kejahatan. Dan berpesan singkat “hati-hati”

Saya : oh gitu yah pak, terimakasih pesannya.

Setengah jam berlalu, hujan mulai reda. Cuma gerimis-gerimis kecil tersisa. Saatnya untuk melanjutkan perjalanan. Setelah membayar teh hangat kami pun beranjak meninggalkan warung itu.

###

Ada percakapan kecil antara bapak-bapak itu yang berkesan, tentang basa-basi perkenalan “musim apa di sana sekarang”. Sebuah basa-basi biasa namun bisa mengakrabkan suasana. Basa-basi terkadang diperlukan dalam kehidupan. Namun, jujur walau terkadang aku muak dengan basa-basi yang tidak mengandung empati, basa-basi yang penuh embel-embel.

Akhirul kalam...
Setiap perjalanan yang kulalui sehari-hari, memberikanku begitu banyak keindahan. Memberikanku pemahaman. Alam ini diciptakan bukan sekedar pelengkap kenikmatan hidup. Namun ia hadir dengan berjuta pelajaran yang harus kita rengkuh untuk memberi arti dan makna bagi kehidupan kita.


6 komentar:

Anazkia 5 Januari 2010 00.36  

Tersesat itu indah bukan....??? Baru "ngeh" tentang komenmu tempo hari. Nur, kapan diriku ke kotamu...??? Memijakan kaki, dan kita bisa bercerita...??? Berapa kira2 ongkosnya Nur, kalau dari Jakarta PP...??? *serius* Tapi, aku boleh khan menginap di rumahmu, gratis...??? wekekekeke...

syafwan 18 Januari 2010 20.37  

Astaga coey, ...... 7 Tahun baru ke sungai tabuk, kemana aja jeng, hi..hi

irsanfinazli 29 Januari 2010 23.10  

Assalamu'alaikum.wr.wb....
Kayaknya saya pernah baca, deh...
MAkasih ya.....

banuahujungtanah 24 Februari 2010 09.09  

Mantap, menyentuh sisi batin kemanusiaan yang terdalam

Anazkia 18 Maret 2010 22.58  

halah, belum posting :((

coey_paringin 2 Mei 2010 05.40  

All : sorry baru ta respon komennya
Anazkia : murah Naz, cuma 500 rb an (klo tiket pesawatnya lg murah hehe).. hayoo nginap di rumah, nanti ta bw jalan2 ke Meratus :)

oh iya,, neh udah posting.. ;p

Syafwan : dulu sering lewat kota aja klo k mtp, ga kepikir lewat jln tembus..

Pak Irsan : same2 pak

Adum : kena ku umpat baelang ke banua kam :)

Posting Komentar

coey's

Belajar dan mengajar merupakan fragmen yang tak terpisahkan dalam hidup ini. Pun blog ini dibuat dalam rangka proses pembelajaran.